Kagetnews.com | Indramayu – Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dinn Wahyudin, MA, menilai konsep Remontada From Within dan Novum Gradum yang diperkenalkan Syaykh Al-Zaytun Syaykh Panji Gumilang memiliki relevansi yang kuat dalam menjawab tantangan pembangunan pendidikan Indonesia masa depan.
Pandangan tersebut disampaikan Prof. Dinn dalam tulisannya mengenai Grand Design 500 Pusat Pendidikan Nasional Berasrama Terintegrasi yang diinisiasi Ma’had Al-Zaytun. Dalam kajian nasional itu, Prof. Dinn menjelaskan bahwa kedua konsep tersebut menjadi landasan filosofis sekaligus penggerak semangat transformasi pendidikan yang bertumpu pada pembangunan karakter manusia dan keberanian melakukan terobosan kemajuan pendidikan.
Kebangkitan Pendidikan dari Dalam
Menurut Prof. Dinn, Remontada From Within mengandung makna kebangkitan yang bersumber dari kekuatan internal manusia dan lembaga pendidikan itu sendiri.
Ia menjelaskan bahwa perubahan besar dalam pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi, kebijakan, atau pembangunan fisik, tetapi harus dimulai dari perubahan pola pikir, karakter, disiplin, integritas, dan kesadaran kolektif.
“Perubahan tidak dimulai dari lingkungan, teknologi, atau kebijakan, melainkan dari kesadaran diri, karakter, pola pikir, dan keinginan untuk berubah,” tulisnya.
Dalam konteks pendidikan, Prof. Dinn menilai konsep tersebut menempatkan manusia sebagai pusat transformasi. Kurikulum dan fasilitas hanya menjadi instrumen pendukung, sedangkan faktor utama keberhasilan pendidikan adalah tumbuhnya motivasi intrinsik, budaya belajar, dan etos kerja peserta didik.
Novum Gradum dan Langkah Baru Pendidikan
Selain Remontada From Within , Prof. Dinn juga menonjolkan konsep Novum Gradum sebagai simbol keberanian memasuki tahap baru pembangunan pendidikan Indonesia.
Konsep yang berasal dari bahasa Latin itu dimaknai sebagai “langkah baru” menuju tingkat kemajuan yang lebih tinggi melalui inovasi, pembaruan, dan transformasi pendidikan.
Menurutnya, konsep tersebut relevan dengan tantangan abad ke-21 yang ditandai dengan perkembangan kecerdasan buatan, digitalisasi, transformasi industri, dan globalisasi.
“Pendidikan tidak sekedar mempertahankan tradisi, tetapi harus terus menghasilkan inovasi yang relevan dengan perubahan zaman,” tulisnya.
Ia menilai pendidikan modern harus mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, penguasaan bahasa asing, literasi digital, kewirausahaan, serta wawasan kebangsaan dalam satu sistem pembelajaran yang utuh dan berorientasi masa depan.
Al-Zaytun Dinilai Menjadi Contoh Pendidikan Transformasional
Dalam tulisannya, Prof. Dinn memandang Ma’had Al-Zaytun sebagai salah satu contoh konkret penerapan konsep Remontada From Within dan Novum Gradum dalam praktik pendidikan nasional.
Menurutnya, pembangunan Al-Zaytun tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pembentukan institusi yang kuat melalui sistem pendidikan berasrama, disiplin, independensi, kebersihan, kepemimpinan, dan pembiasaan karakter dalam kehidupan sehari-hari.
“Pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga dalam keseluruhan ekosistem kehidupan pesantren,” tulisnya.
Pewarta : Lukman
Editor : Obet
Apresiasi Spesial
Dukungan Anda membantu kami menyajikan berita berkualitas.
Scan QRIS Berita Super
Silakan selesaikan pembayaran melalui aplikasi e-wallet Anda.






















