Search
Beranda » Daerah » Menjaga Semangat Pancasila di Tengah Dunia Modern Tanpa Batas

Menjaga Semangat Pancasila di Tengah Dunia Modern Tanpa Batas

  • Lukman
  • June 3, 2026
  • 12:39 pm
  • Daerah
  • Lukman
  • 03/06/2026
  • 12:39

Bagikan

Kagetnews.com | Indramayu – Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada kelahiran Pancasila. Sebagai ideologi dan dasar negara, Pancasila hari ini menghadapi tantangan berat baik dari dalam maupun dari luar. Perubahan dunia berlangsung begitu cepat sehingga batas-batas seakan hilang.

Manusia Indonesia kini seperti memiliki dua “negara” sekaligus, yakni negara offline dengan batas teritorialnya, dan negara online yang terhubung ke jaringan dunia tanpa batas ( borderless ). Di ruang kedua itu, arus nilai, ideologi, dan informasi mengalir deras tanpa paspor dan tanpa bea cukai, diperderas algoritma yang tak mengenal kewarganegaraan.

Di layar yang sama, generasi muda kita diperkenalkan dengan individualisme ekstrem, hedonisme global, sekaligus benih intoleransi dan radikalisme yang menyusup tanpa terbendung sekat negara. Justru karena itulah peremajaan nilai-nilai Pancasila harus berkelanjutan, agar generasi bangsa tidak kehilangan kompas di tengah lautan informasi yang tak bertepi.

Sebagian dari kita mungkin tidak menyadari betapa pentingnya keberadaan Pancasila. Padahal, jika ia tak pernah ada, sukar membayangkan apa yang akan merekatkan negeri kepulauan berpenduduk lebih dari 280 juta jiwa, dengan ratusan suku dan ratusan bahasa daerah serta enam agama yang diakui resmi. Tanpa titik temu filosofis, kemajemukan sebesar itu mudah berubah menjadi sumbu perpecahan, seperti dominasi mayoritas atas minoritas, politik identitas yang menyala-nyala, atau tarik-menarik ideologi impor yang tak dihapuskan pada bumi sendiri. Pancasila hadir justru sebagai jalan yang merangkul tanpa menyeragamkan berupa kebinekaan yang mengikat, bukan dilebur.

Diakui Dunia, Tetap Relevan

Sesungguhnya, nilai-nilai Pancasila tetap muda dan relevan dengan denyut dunia modern, terutama dengan cita-cita Indonesia modern. Kelima silanya bersifat aspiratif, terbuka menyerap perubahan tanpa kehilangan inti. Keadilan sosial beresonansi dengan tuntutan kesetaraan yang menggema di seluruh dunia; ketuhanan yang berkebudayaan menjawab kehausan spiritual di tengah materialisme; dan kemanusiaan yang adil serta beradab pada dasarnya adalah bahasa universal hak asasi.

Bukti pengakuan atas daya gagasan universal ini datang dari panggung dunia. Pidato Soekarno di Sidang Umum PBB ke-15, “To Build the World Anew” (30 September 1960), memperkenalkan Pancasila sebagai ideologi alternatif bagi tata dunia yang sedang dibelah Perang Dingin. Pada tahun 2023, UNESCO menetapkan arsip pidato itu sebagai Memory of the World , pengakuan bahwa dokumen tersebut memiliki nilai signifikansi universal bagi ingatan kolektif umat manusia, setara dengan arsip Konferensi Gerakan Non-Blok. Yang diabadikan bukan sekedar lembaran naskah, melainkan keberanian sebuah bangsa muda yang menawarkan cara memandang baru kepada dunia.

Di forum itu pula Sukarno menyanggah filsafat Inggris, Bertrand Russell, yang membelah dunia hanya ke dalam dua kutub, yakni pengikut Deklarasi Kemerdekaan Amerika dan pengikut Manifesto Komunis. Soekarno mengingatkan bahwa lebih dari satu miliar rakyat Asia dan Afrika tidak menganut keduanya; dari pengalaman dan sejarah sendiri, katanya, lahirlah sesuatu yang jauh lebih cocok, yakni Pancasila. Inilah yang kemudian dikenal sebagai semangat “jalan ketiga”.

Maknanya bukan klaim sombong bahwa Pancasila mengalahkan dua blok adidaya, melainkan penolakan untuk dipaksa memilih antara dua ekstrem, sebuah sintesis yang menempatkan ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial sebagai poros. Bagi Sukarno, Pancasila adalah Weltanschauung , pandangan hidup, bukan semata-mata deretan pasal hukum.

Namun betapapun indahnya nilai-nilai Pancasila, ia tak akan pernah menemukan maknanya bila tidak diamalkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di tengah ujian terberatnya berdiri. Indeks Persepsi Korupsi 2025 menempatkan Indonesia pada skor 34 dari 100, melorot ke peringkat 109 dari 182 negara (turun sepuluh tangga dari tahun sebelumnya), sebagian karena menyempitnya ruang pengawasan masyarakat sipil (Transparency International, 2026).

Ketimpangan pun belum benar-benar usai. Meski rasio gini turun menjadi 0,363 pada September 2025, jurang di perkotaan tetap lebih menganga dibandingkan di desa, tanda bahwa buah pertumbuhan belum merata (BPS, 2026). Korupsi yang mengancam keadilan sosial, mencengkeram yang menggerus persatuan, hukum yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah, semuanya adalah pengingkaran sila demi sila dalam praktik, betapapun fasih kita melafalkannya dalam upacara.

Bukan suatu kebetulan bila sepanjang tahun 2025 gelombang protes anak muda meluap ke jalan di berbagai penjuru dunia, menuntut akuntabilitas atas tata kelola yang dirasa mencerminkan rasa keadilan (Transparency International, 2026). Suara-suara itu, betapapun riuh dan kadang-kadang berakhir getir, sejatinya bukan penolakan terhadap Pancasila, melainkan tuntutan keras agar negara menepati janji yangnya ditulis sendiri dalam Pembukaan UUD 1945. Mereka sedang menagih sila kelima, bukan menanggalkannya.

Pancasila, dengan demikian, bukan semata-mata jagoan dalam konteks tataran; ia harus menjadi jagoan dalam kehidupan nyata. Inilah hakikat living ideologi, yakni ideologi yang hidup bukan karena dihafalkan murid di ruang kelas atau dikutip pejabat di podium, melainkan karena menjelma dalam keputusan anggaran yang berpihak, dalam penegakan hukum yang tak pandang bulu, dan dalam cara sebuah bangsa memperlakukan warganya yang paling lemah.

Ideologi yang hidup adalah ideologi yang dapat dilihat bekerja, bukan hanya dibaca. Ia tampak ketika seorang pejabat menolak suap karena malu pada sila pertama, ketika anggaran negara berpihak kepada yang papa atas nama sila kelima, dan ketika perbedaan keyakinan dijaga, bukan dijadikan alat kekuasaan. Ia harus menjadi energi yang mengalir di nadi kebijakan publik dan kesadaran warga, bukan fosil yang dipajang setahun sekali setiap 1 Juni.

Maka peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 sebaiknya kita tidak maknai sebagai seremoni mengenang masa lalu, melainkan sebagai pertanyaan jujur ​​tentang masa kini, sudah sejauh mana lima sila itu benar-benar kita hidupi? Dunia tanpa batas justru menuntut bangsa ini dihapus lebih dalam, bukan tercerabut. Sebab sebuah ideologi tidak runtuh ketika diserang dari luar, melainkan ketika ditinggalkan dari dalam, yakni ketika ia masih kita ucapkan dengan khidmat, namun tak lagi kita kerjakan dengan sungguh-sungguh.

Tugas generasi hari ini bukan menjaga agar Pancasila tetap muda di atas kertas, melainkan memastikan ia tetap hidup di jalanan, di ruang sidang, dan di meja-meja tempat diputuskannya nasib rakyat. Sebab pada akhirnya, Pancasila akan setua atau semuda perbuatan kita terhadapnya. Selama masih ada warga yang menuntut keadilan dan negara yang berani menuntut dirinya sendiri, lima sila itu akan terus muda, bukan karena pengakuan, melainkan karena dihidupi.

Pewarta : Lukman
Editor : Obet


Apresiasi Spesial

Dukungan Anda membantu kami menyajikan berita berkualitas.

5rb
20rb
50rb
×

Scan QRIS Berita Super

Silakan selesaikan pembayaran melalui aplikasi e-wallet Anda.

  • Hari Kesaktian Pancasila, Ideologi
PrevSebelumnyaGMPAR Gelar Sunatan Massal Gratis, Targetkan 100 Anak Indramayu
TerbaruDari Al-Zaytun untuk Indonesia, Prof Imam Suprayogo Gaungkan Generasi IdeologiNext
Desa
Tani
Nelayan
Desa

Potret Juru tulis desa Pawidean, Taufik Kurohman. (ist)

Desa Pawidean Gelar Tradisi Mapag Sri: Dimulai Sunatan Massal, Doa Bersama dan Dimeriahkan Wayang Kulit

Potret Forkopimcam Balongan Hadiri Mapag Sri di Desa Sukareja. (ist)

Forkopimpcam Balongan Hadiri Acara Mapag Sri di Desa Sukareja, Semoga Petani Hasilkan Padi yang Melimpah

Potret Kantor Kuwu desa Sukasari Kecamatan Arahan. (ist)

Tiga Pamong Desa Sukasari Mengaku Siap Hadapi Kebijakan Penjabat Kuwu

Potret perangkat desa Sudimampir lor, Camat Balongan, Sekmat Balongan, UPTD Pertanian Indramayu, BPP Balongan, UPI Rencana, BBWS Cisanggarung KTNA Kecamatan Balongan, Kelompok tani saat ubinan di desa Sudimampir Lor. (ist)

Camat Balongan Dampingi BPP Balongan Lakukan Ubinan di Desa Sudimampir Lor

Potret Kuwu desa Sudimampir Lor, Ade Nanto bersama Kapolsek Balongan dalam Acara Mapag Sri tahun 2026. (ist)

Pemdes Sudimampir Lor Gelar Acara Mapag Sri, Ungkapan Rasa Syukur Bagi Para Petani

Tani

Potret papan informasi pekerjaan pemeliharaan jaringan irigasi tersier desa Rajasinga. (ist)

Petani Rajasinga Sambut Baik Pemeliharaan Jaringan Irigasi

Photo Babinsa Kaweron Koramil 0808/16 Talun Serda Edi Prasetiyo, 19/10/2025 (Ist)

Wujud Kepedulian TNI Pada Ketahanan Pangan, Babinsa Kaweron Bantu Petani Tanam Padi

Ketahanan Pangan Jagung di Desa Bojong Kulon Terus Ditingkatkan

Serikat Tani Indramayu Demo Tuntut Fasilitas Penunjang Pertanian

Semua Camat ‘Ngantor’ di Pintu Air Nina Agustina: Tindak Tegas Jika Ada Mafia Air

Nelayan

Potret Bupati Indramayu, Lucky Hakim Blusukan Tinjau Langsung Pengerukan Pelabuhan Dadap, 23/10/2025 (Ist).

Lucky Hakim Blusukan, Percepat Pelabuhan Dadap Untuk Mengangkat Perikanan Indramayu

Kemeriahan Pesta Laut di Pesisir Pantai Karangsong Indramayu

SPBUN dan Asuransi Perikanan untuk Perlindungan Nelayan Kecil

Pasokan Ikan Aman, Menteri KKP Pantau Produksi di Indramayu

Longboat Berpenumpang 11 Orang Selamat Setelah Alami Kerusakan Mesin di Perairan Maluku Tenggara

Berita lainnya

Potret Bupati Indramayu, Lucky Hakim. (ist)

Pemkab Indramayu Berprestasi, Raih Predikat Kinerja Tinggi dari Kemendagri

Gelombang PHK & Ledakan Pekerja Informal Butuh Intervensi Nyata Negara

Potret Obyek wisata Pantai Bali 2 Indramayu. (ist)

Pantai Balongan Indah 2 Jadi Destinasi Favorit di Indramayu

Potret Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi bersama Bupati Indramayu, Lucky Hakim. (ist)

RSUD Pantura M.A Sentot Indramayu Resmi Beralih Status Jadi RS Provinsi Jawa Barat

Polindra Perkuat Sinergi Pendidikan Vokasi melalui Pelantikan Pengurus Forum PPVI-IGVIM Kabupaten Indramayu 

Potret warga saat sembelih hewan qurban di Masjid momen Idul Adha. (ist)

Sudah Tradisi 17 Tahun, Warga Desa Ini Berqurban Terpusat di Masjid

Ketua Karang Taruna Desa Karangkerta Kritiki Pembangunan KDMP yang Mangkrak!

Potret saksi ahli hukum pidana, Prof. Dr. Yongky Fernando, S.H., M.H., dari Universitas 17 Agustus 1945. (ist)

Sidang Kasus Pembunuhan Sekeluarga di Paoman: Saksi Ahli Nilai Ada Pelanggaran Prosedur Penyidikan

Politeknik Negeri Indramayu Tampung 532 Mahasiswa Melalui Jalur SNBT 

Potret saksi ahli pidana Prof. Dr. Youngky Fernando dalam persidangan kasus pembunuhan satu keluarga di Kelurahan Paoman, Kabupaten Indramayu. (ist)

Prof. Youngky Angkat Bicara soal WhatsApp Ririn Log Out, Penyidik hingga Jaksa Bisa Dipidana

WARTA

  • Warta Terkini
  • Warta Desa
  • Warta Tani
  • Warta Nelayan
  • Desa Dalam Angka
  • Warta Terkini
  • Warta Desa
  • Warta Tani
  • Warta Nelayan
  • Desa Dalam Angka

FEATURED

  • Inspirasi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Teknologi
  • Foto
  • Inspirasi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Teknologi
  • Foto

INTEREST

  • Budaya
  • Budidaya
  • Bencana
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Sosial
  • Wisata
  • Icip-Icip
  • UMKM
  • Budaya
  • Budidaya
  • Bencana
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Sosial
  • Wisata
  • Icip-Icip
  • UMKM

INFORMASI

  • Beasiswa
  • Loker
  • Jual Beli Rangkas
  • Properti
  • Beasiswa
  • Loker
  • Jual Beli Rangkas
  • Properti
  • TENTANG KAMI
  • KONTAK
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK
  • TENTANG KAMI
  • KONTAK
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK

Copyright © 2026 kagetnews.com - All Right Reserved

© 2026 Kagetnews.com. All right reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

  • Warta
    • Warta Terkini
    • Warta Desa
    • Warta Tani
    • Warta Nelayan
    • Desa Dalam Angka
  • Featured
    • Inspirasi
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Foto
    • Apa Kata Pembaca
    • Aspirasi
  • Interest
    • Bencana
    • Budaya
    • Budidaya
    • Kesehatan
    • Sosial
    • Wisata
    • Icip-Icip
    • UMKM
  • Informasi
    • Jual Beli Rangkas
    • Beasiswa
    • Loker
    • Properti