
Oleh: Umam Ishartanto
Kagetnews | Opini – Indramayu hari ini sedang mempertontonkan sebuah teater paradoks yang menyakitkan. Di atas mimbar-mimbar kekuasaan, Pemerintah Kabupaten Indramayu pimpinan Lucky Hakim dan Syaefudin dengan bangga memamerkan angka investasi yang menembus ratusan miliar rupiah. Narasi pembangunan pabrik sepatu raksasa di Cikawung dengan janji 30.000 lapangan kerja terus digoreng sebagai “obat penawar rindu” bagi para pencari kerja. Namun, jika kita menanggalkan kacamata merah muda pemerintah dan melihat data objektif, yang kita temukan bukanlah solusi, melainkan kegagalan sistemik yang nyata.
Data BPS per Agustus 2025 adalah tamparan keras bagi rezim Lucky-Syaefudin. Di tengah klaim keberhasilan investasi, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) justru merangkak naik menjadi 6,47%. Lebih tragis lagi, sekitar 30.000 pekerja di sektor formal hilang dari peredaran. Artinya, saat pemerintah sibuk menggunting pita pabrik baru, puluhan ribu warga Indramayu justru kehilangan kepastian hidup di sektor-sektor yang sudah ada. Ini bukan prestasi, ini adalah degradasi kesejahteraan yang dibalut dengan pencitraan!
Kami, sebagai mahasiswa dan pemuda Indramayu, melihat setidaknya ada tiga borok besar yang harus segera dibedah oleh pasangan Lucky-Syaefudin:
Pertama: Ironi Penonton di Rumah Sendiri (Mismatch Kompetensi)
Visi “Ekonomi Kerakyatan” dalam Panca Karsa hanya akan menjadi mitos jika kurikulum pendidikan kita tidak pernah bersinggungan dengan kebutuhan industri yang didatangkan. Pemerintah seolah-olah “menjual” lahan Indramayu kepada investor tanpa menyiapkan/SDM. Jangan sampai pabrik-pabrik megah berdiri di atas tanah leluhur kami, namun karyawannya justru “diimpor” dari luar daerah dengan alasan kompetensi. Jika pemerintah gagal melakukan sinkronisasi pelatihan kerja (BLK) dengan kebutuhan pabrik sepatu di Cikawung atau industri di Losarang, maka warga lokal hanya akan berakhir menjadi petugas parkir atau pedagang asongan di depan gerbang pabrik milik asing.
Kedua: Kehancuran Sektor Formal dan Jebakan Sektor Informal
Penurunan jumlah pekerja formal sebesar 30 ribu orang menunjukkan bahwa iklim usaha di Indramayu sedang tidak sehat. Pemerintah terlalu fokus mengejar “investasi baru” yang mentereng di media, namun abai menjaga industri lokal yang sudah ada dari kebangkrutan. Masyarakat dipaksa beralih ke sektor informal yang tidak memiliki jaminan sosial, tidak memiliki upah minimum yang tetap, dan penuh ketidakpastian. Apakah ini yang dimaksud dengan Indramayu REANG? Mengganti buruh pabrik yang terlindungi menjadi pedagang kecil yang terjepit modal dan ruang?
Ketiga: Super Apps Wong Reang atau Super Apps Pemuas Ego?
Kami mendesak transparansi total dalam rekrutmen tenaga kerja. Jangan biarkan Super Apps Wong Reang hanya menjadi sekadar gimmick digital tanpa efektivitas nyata. Rahasia umum mengenai praktik “titipan”, “uang masuk kerja” hingga jutaan rupiah, dan nepotisme dalam rekrutmen di Indramayu adalah penyakit menahun yang belum juga disembuhkan. Jika sistem rekrutmen masih dipenuhi praktik kotor, maka akses kerja hanya milik mereka yang punya “orang dalam” atau “kantong tebal”. Mahasiswa menuntut agar setiap lowongan di Indramayu dibuka secara telanjang dan dapat dipantau oleh publik tanpa intervensi kepentingan politik manapun!
Penutup: Jangan Biarkan Rakyat Hanya Menelan Angka
Pemerintah Kabupaten Indramayu harus berhenti merasa sukses hanya karena angka investasi di atas kertas naik. Investasi tanpa penyerapan tenaga kerja lokal yang signifikan adalah pengkhianatan terhadap konstitusi dan janji politik. Memasuki pertengahan 2026 ini, kami memberikan peringatan: Jika angka pengangguran terus menanjak dan sektor formal terus tergerus, maka Visi Indramayu REANG tak lebih dari sekadar slogan politik hampa yang dijual saat kampanye.
Sebagai individu yang terlahir di indramayu kita tidak butuh seremoni gunting pita yang meriah; kami butuh kepastian bahwa esok hari dapur warga Indramayu tetap mengepul karena mereka memiliki pekerjaan yang layak di daerahnya sendiri. Pemerintah, silakan bekerja atau bersiaplah menghadapi kemarahan generasi yang tak punya masa depan!
Apresiasi Spesial
Dukungan Anda membantu kami menyajikan berita berkualitas.
Scan QRIS Berita Super
Silakan selesaikan pembayaran melalui aplikasi e-wallet Anda.






















