Tabah dalam Penderitaan: Relevansi Stoisisme dan Kisah Viktor Frankl di Kamp Konsentrasi

Sumber Gambar Wikimedia Commons.

Bagikan

Oleh: Abdul Muthalib

Kagetnews | Opini – Pada masa perang dunia II, di Austria hiduplah salah seorang psikiater yang bernama Viktor Frankl. Suatu ketika, pada masa tersebut Ia dan keluarganya menjadi salah satu korban tawanan oleh tentara Nazi Jerman yang masuk ke Austria, dan membawa Frankl dan keluarganya, termasuk keturunan Yahudi ke komplek tahanan (gettho). Frankl yang memiliki keahlian, setiap harinya, ia harus meluangkan waktu untuk aktif bekerja menyediakan kelas pengajaran dan layanan kesehatan kepada sesama tawanan.

Situasi yang menimpanya, Frankl menyadari bahwa situasi ini adalah siatuasi yang tidak diinginkan. Akan tetapi, ia dan keluarganya tetap menjalaninya dengan penuh ketabahan. Mungkin, pada masa tersebut sangat kacau balau. Hingga pada tahun 1943, Ayahnya meninggal di gettho karena kelaparan, selang beberapa waktu menyusul Ibunya yang terbunuh hingga kemudian saudara laki-lakinya.

Selanjutnya, Istrinya yang sedang hamil, dipulangkan ke Kamp Konsentrasi dan ikut terbunuh. Tentu, masa Holocaust ini, begitu sangat menyakitkan bagi Frankl setelah mengetahui keluarganya meninggal, dan dirinya tetap harus menjadi tawanan. Bahkan, Frank sendiri kala itu, selain mengalami siksaan fisik, ia juga sempat mengalami terpaan mentalitas. Hingga kemudian, tentara Amerika datang, dan dirinya dibebaskan dari tawanan.

Setelah perang dunia II berakhir, Frank kembali ke Vienna dan menulis buku sembari mengobati trauma dan terpaan mentalnya tersebut. Buku yang dikarangnya itu, berjudul “Man’s Search for Meaning” atau “Pencarian Manusia akan Makna”. Hingga hingga saat ini, buku tersebut sangat populer dalam bidang psikologi bahkan menjadi salah satu buku basis psikoterasi, atau logotherapy.

Dari buku karangnnya itu, ada salah satu pelajaran yang sangat menarik. Dimana ia menegaskan bahwa Kita tidak bisa memilih atau bahkan merubah situasi apapun, melainkan kita hanya bisa menyikapinya dalam situasi tersebut. Maksudnya, jika kita kaitkan berdasarkan pengalaman yang pernah menimpa Frankl, tentu begitu sangat menyedihkan, dan kita hanya bisa menghadapi situasi tersebut untuk tetap tenang, dan tetap bertahan dalam menjalani hidup demi mencapai kebahagiaan.

Sementara, dalam perspektif filsafat Stoa, atau, umumnya menyebutnya dengan Stoicism, berdasarkan dari pengalaman Frankl, hal ini mencerminkan terhadap penerapan nyata dari konsep dichotomy of control (Dikotomi Pengendalian). Dalam Stoisisme, aliran filsafat ini sama sekali tidak mengajarkan untuk pasrah terhadap keadaan. Tentu, hal ini sebagaimana yang telah di alami Frankl.

Dikotomi pengendalian, dalam filsafat stoisisme menjadi salah satu ajaran dan kunci dalam meraih kebahagiaan sejati. Pada dasarnya, dikotomi pengendalian, bukan hanya soal kemampuan untuk memperoleh, tetapi juga untuk mempertahankan. Kendati demikian, yang dimaksud dikotomi pengendalian, bukan berarti pasrah dalam keadaan atau situasi yang menimpa pada saat itu.

Dengan demikian, filsafat stoa, melalui kisah Viktor Frankl, secara tidak langsung ia telah menerapkan konsep dikotomi pengendalian. Dan selaras, apa yang telah ditegaskan dalam bukunya, bahwa dalam kehidupan, kita tidak bisa memilih siatuasi, melainkan kita hanya bisa menyikapinya dengan seperti apa, dan bagaimana.

“Dalam Situasi apapun; termasuk penderitaan dalam hidup, melalui Filsafat Stoa dan menerapkan konsep Dikotomi pengendalian adalah kunci, tabah bukan berarti pasrah; karena kita berhak menggapai kebebasan untuk hidup bahagia”.

Yuk, agar hidup kita tenang dan tetap elegan, penulis mengajak untuk pembaca klik link: https://collshp.com/terpurukid_banyak literasi yang membuat isi kepala kita menjadi fresh. Selain itu pembaca bisa mendapatkan rekomendasi berbagai buku kesukaan tuan dan puan yang sedang gelisah dan mencari kebahagiaan. Salam hangat penuh mesra untuk semua. Terima kasih. Info lanjut lebih mesra: Instagram @terpuruk_id.

“Hati-hati! di Perjalanan Tuhan Menyertai Kita”.

References: Henry Manampiring (2019). Filosofi Teras.

Berita lainnya