
Kagetnews | Opini – Perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang kini memanas kembali seakan menjadi cermin buram bagi dunia Islam kontemporer. Di tengah dentuman rudal dan diplomasi yang membeku, negara-negara mayoritas Muslim di Timur Tengah justru terlihat gamang dengan memilih sikap hati-hati, bahkan cenderung diam. Mereka seperti menutup mata terhadap apa yang oleh sebagian pihak disebut sebagai ketidakadilan global, sambil tetap menikmati stabilitas ekonomi dan kemewahan yang ditopang oleh relasi strategis dengan Barat.
Iran, melalui sistem Republik Islamnya sejak Revolusi 1979, memang memposisikan diri sebagai kekuatan yang berseberangan dengan dominasi Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk Israel. Sejak runtuhnya rezim Mohammad Reza Pahlavi dan naiknya Ruhollah Khomeini, Iran menjadikan perlawanan terhadap hegemoni Barat sebagai bagian dari identitas politiknya. Sikap ini kemudian diteruskan oleh para pemimpin berikutnya, termasuk Ali Khamenei, yang selama bertahun-tahun menjadi simbol keteguhan ideologis Iran di tengah tekanan sanksi dan ancaman militer.

Jika benar perang ini telah menewaskan pemimpin tertinggi Revolusi Islam Iran, maka dampaknya bukan sekadar kehilangan figur sentral, tetapi juga berpotensi mengguncang keseimbangan geopolitik kawasan. Kepemimpinan tertinggi di Iran bukan hanya simbol politik, melainkan poros legitimasi ideologis dan spiritual negara tersebut. Kekosongan di posisi itu dapat memicu dinamika internal, sekaligus membuka babak baru dalam relasi Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Namun, persoalan ini tidak sesederhana narasi “Iran melawan kezaliman sendirian.” Politik global hari ini adalah arena kepentingan yang kompleks. Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan lainnya memiliki kalkulasi strategis sendiri: stabilitas ekonomi, keamanan nasional, dan hubungan dagang internasional menjadi pertimbangan utama. Di sisi lain, konflik terbuka dengan Amerika Serikat berisiko memicu instabilitas regional yang lebih luas—baik dalam bentuk perang proksi, krisis energi, maupun gelombang pengungsi.
Yang patut menjadi refleksi adalah mengapa solidaritas dunia Islam kerap terpecah ketika berhadapan dengan konflik besar. Apakah karena perbedaan mazhab dan rivalitas geopolitik? Ataukah karena pragmatisme ekonomi telah menggeser idealisme politik? Realitas menunjukkan bahwa kepentingan nasional sering kali lebih dominan dibandingkan sentimen keagamaan atau retorika persatuan umat.
Perang Iran versus Amerika Serikat dan Israel juga memperlihatkan wajah lama politik global: perebutan pengaruh, keamanan energi, dan kontrol kawasan strategis. Timur Tengah tetap menjadi episentrum karena posisinya yang vital dalam jalur perdagangan dan cadangan minyak dunia. Dalam konteks ini, agama sering kali menjadi bingkai retorik, sementara inti persoalan tetap soal kekuasaan dan kepentingan.
Opini publik dunia kini terbelah. Sebagian melihat Iran sebagai simbol perlawanan terhadap hegemoni Barat. Sebagian lain menilai kebijakan luar negeri Iran turut memperkeruh konflik melalui dukungan terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan. Sementara itu, masyarakat sipil—baik di Iran, Israel, maupun negara-negara lain—menjadi pihak yang paling merasakan dampak langsung dari perang: ketakutan, kehilangan, dan ketidakpastian masa depan.
Pada akhirnya, perang ini menantang nurani global. Apakah dunia akan terus membiarkan konflik menjadi instrumen politik? Ataukah ada upaya serius untuk membangun tatanan internasional yang lebih adil dan setara? Dunia Islam, khususnya, dihadapkan pada pilihan historis: tetap terpecah oleh kepentingan masing-masing, atau merumuskan kembali solidaritas yang tidak hanya berbasis retorika, tetapi juga keberanian moral dan diplomasi yang bermartabat.
Sejarah akan mencatat bukan hanya siapa yang menang atau kalah, tetapi siapa yang memilih bersuara, dan siapa yang memilih diam.
Opini ini ditulis Aditya Hehanussa.
Apresiasi Spesial
Dukungan Anda membantu kami menyajikan berita berkualitas.
Scan QRIS Berita Super
Silakan selesaikan pembayaran melalui aplikasi e-wallet Anda.






















