Peran Penting Nilai-Nilai Kemanusiaan, Kepemerintahan & Keislaman dalam Menghadapi Bencana Sumatera

Potret bencana sumatera. (Dokumentasi: Muhammad Sirril Wafa)

Bagikan

Penulis: Muhammad Sirril Wafa, S.H

Mahasiswa Pascasarjana MPAI Universitas Islam 45 Bekasi

 

Kagetnews | Opini – Bencana banjir yang melanda Sumatera Barat, Aceh, dan Sumatera Utara bukan sekedar musibah biasa, melainkan musibah yang disebabkan oleh manusia yang melakukakan penggundulan hutang dengan memotongan pohon-pohon.

Pohon yang seharusnya meresap air ketika curah hujan mulai datang, sekarang disalahgunakan oleh oknum pembalak liar demi meraup keuntungan, tanpa melihat dampaknya terhadap lingkungan sekitar.

Dalam kacamata seorang akademisi, penangan pasca bencana tidak berhenti pada bantuan logistik saja, namun harus adanya sentuhan kemanusiaan dan kepemerintahan terhadap musibah yang sedang dirasakan oleh saudara kita yang berada di Sumatera.

Oleh karena itu, pendekekatan Kemanusiaan, Kepemerintahan, dan Keislaman menjadi kunci utama dalam memulihkan keadaan yang terkena musibah banjir melalui 3 tahap:

Kemanusiaan dalam konteks bencana berarti sikap kepedulian, empati, dan tanggung jawab terhdap sesama tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun golongan. Prinsip kemanusiaan menekankan bahwa setiap korban bencana berhak mendapatkan perlindungan, bantuan dan perlakuan adil.

Nilai kemanusiaan juga tercermin dalam solidaritas sosial, gotong royong, serta keikhlasan dalam membatu korban bencana. Bantuan yang diberikan tidk hanya berupa materi, tetapi juga dukungan moral dan psikologis.

Pemerintah memiliki peran penting dalam menjamin pemenuhan hak-hak korban bencana melalui kebijakan koordinasi, dan penyediaan sumber daya. Semenetara itu, Masyarakat berperan sebagai agen solidaritas sosial melalui partisipasi aktif dalam kegiatan kemanusiaan, seperti relawan, donasi, dan edukasi kebencanaan. Kolaborasi antara pemerintah, Lembaga kemanusiaan dan Masyarakat sangat diperlukan agar penanganan bendana dapat berjalan secara efektif dan berkeadilan.

Dalam Islam, bencana dapat dipahami sebagai (ibtida) Ujian, peringatan (tadzkirah) atau ketetapan Allah (Qadha dan Qadhar). Allah Berfirman: “Dan sungguh kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, harta Jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembiran kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Ayat tersebut menunjukan bahwa bencana merupakan ujian keimanan yang harus dihadapi dengan sikap sabar dan tawakal.

Kesimpulan

Nilai-nilai Keislaman, Kepemerintahan dan Kemanusiaan merupakan landasan utaman dalam penanggulangan bencana yang berorientasi pada keselamatan, keadilan, dan kesejahteraan Masyarakat.

Nilai keislaman memberikan pedoman moral dan spiritual berupa sikap sabar, tawakal, ikhtiar serta kepedulian  sosial dalam menghadapi musibah. Sementara itu sudut pandang nilai kepemerintahan berperan dalam menjamin kehadiran negara melalui kebijakan, koordinasi, dan perlindungan hukum bagi Masyarakat terdampak bencana. Kemudian untuk nilai Kemanusiaan menekankan pentingnya penghormatan terhadap martabat manusia, solidaritas sosial dan perlakuan yang adil tanpa diskriminasi.

Ketiga nilai tersebut saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan dalam mewujudkan penanganan bencana yang holistic, berkeadilan dan berkelanjutan.

Berita lainnya