Search
Beranda » Opini » Pemimpin Patriotik di Era Robotik

Pemimpin Patriotik di Era Robotik

  • taufid
  • June 7, 2023
  • 5:44 pm
  • Opini
  • taufid
  • 07/06/2023
  • 17:44
Gambar ilustrasi dari Pixabay.

Bagikan

Oleh Hasbi Indra

Kagetnews | Opini – Dalam khazanah ilmu kepemimpinan tak ditemukan kepemimpinan di dua istilah itu tapi ia ada dalam kenyataan yang dirasakan yang perlu didiskusikan sehingga menjadi khazanah keilmuan atau menjadi teori ilmu kepemimpinan minimal di tanah air.

Pemimpin patriotik yang diharap oleh suatu bangsa yang  sejak awal kemerdekaannya. Pada masa itu pemimpin bangsa telah merasakan suasana ketakadilan, ketaksetaraan dan ketakmuran, hal  itu telah mereka rumuskan dalam cita konstitusi yaitu di UUD 1945, apakah ini suatu hal yang berlebihan tentu saja tidak.

Pemimpin itu dalam bayangan perumus konstitusi adalah pemimpin rakyat yang citarasanya hanya dipengaruhi oleh cita konstitusi dan itu harga mati baginya atau hal itu tak bisa ditawar dengan apapun baik tahta maupun harta.

Pemimpin yang melihat tahta sebagai amanah. Bila kepemimpinannya tak bisa merubah kondisi yang dirasakan oleh rakyat sebelumnya, malu dirinya bertahan di tahta itu, apalagi  jauh dari citarasa untuk meminta bonus berlama di tahtanya. Bila ada rasa malu itu tanda sang pemimpin masih memiliki patriotistik ke bangsanya.

Pemimpin bangsa bisa terjadi bak robot, di mana manusia lain telah siap membuat dirinya seperti itu karena disadari dengan cara itu ia bisa menjadi pemimpin puncak. Apalagi di saat rakyat masih memilih pemimpin bercitarasa money politiks, pemberian sembako dan serangan  fajar, dan rakyat masih bercitarasa pragmatis dalam memilih pemimpinnya.

Atau rakyat masih terpukau dengan wajah yang lugu seperti merakyat tapi hanya sekedar simbolik  dan rakyat terhipnotis akan hal itu.  Tahunan hal itu dilakukan melakukan kerja polesan seperti terus merakyat  dengan membagi sesuatu melalui mobilnya. Sementara kondisi bangsa tak mengalami perubahan yang diharapkan rakyat seperti yang dijanjikannya.

Janji-janjinya telah membuahkan bangsa yang kini  hutangnya di angka 8000 triliun di tahun 2023 yang di tahun 2014 hanya   di angka 2600 triliun (klik google, hutang pemerintah 2014/2023) atau angkanya versi anggota DPR sudah berada di 20 000 trilyun. Angka kemiskinan dan pengangguran yang angkanya puluhan juta dan bahkan versi Bank dunia 110 juta (Abdul Kohar, Media Indonesia 13 Mei 2023, h.2). Kini dirasakan oleh rakyat ada pula tuna morals, tuna korups yang angkanya ada di 16 triliun, 24 trilyun dan ada pula yang di angka 349 trilyun akan dicatat hal itu sudah menjadi budaya, selain  tuna  konstitusi, tuna ekonomi, tuna politik dan tuna demokrasi.

Cara itu sepertinya akan diulang kembali yang menggambarkan sang pemimpin seperti robotik di era robot.

Robot pekerja tanpa akal dan hati serta robotik yakni pekerjaan yang didesain untuk dilaksanakan bak mesin penghancur bukan pembangun. Menggambarkan hal itu seperti manusia dalam menjalani kehidupannya bak robot  Tuhan yang harus dipahami dan diterima dalam suatu istilah fatalisme atau di era klasik ulama menyebutnya kaum jabariyyah. Paham bahwa manusia robot Tuhan saja dalam menjalani kehidupannya.

Tapi robot di era robotik ini ada di kehendak mereka yang berharta membentuk citarasa yang di tahta. Ini yang mungkin sedang terjadi dalam perjalanan suatu bangsa. Bila hal itu terjadi akan memperkaya khazanah keilmuan dan layak menjadi teori di keilmuan kepemimpinan dalam bidang  ilmu kenegaraan untuk diwaspadai dan dihindari.

Manusia bisa membentuk robot di suatu bangsa dengan kemampuan keilmuan dan kekuatan uangnya. Misalnya suatu bangsa untuk menjadi bangsa yang maju telah memiliki syaratnya yakni memiliki SDA yang kayaraya dan juga SDM yang lengkap apa pun tersedia telah banyak intelektual untuk semua bidang keilmuan dan kaum profesionalnya, namun dalam perjalanannya hasilnya tak sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Suatu bangsa menghadapi kenyataan menjadi bangsa penghutang, dari masa pemerintahan ke pemerintahan lain, hutang terus meningkat. Begitu pula populasi orang miskinnya semakin bertambah dari jumlah jutaan menjadi puluhan dan bahkan mungkin ratusan juta. Fenomena hasil dari faham fatalisme yang bagi mereka bisa dimaklumi.

Fatalisme dibentuk melalui kerja kebudayaan melalui dunia politik, hukum, ekonomi dan pendidikan serta agama.

Dunia politik seperti demokrasi yang kegiatannya melalui pemilu bagi yang menyukai paham fatalisme akan mengupayakan terpilihnya sosok manusia pemimpin  yang dibentuk untuk menjalani fatalisme.

Sosok yang potensial untuk hal itu yaitu manusia yang lemah akal tak memilih etos ilmu dan literasi  rendah dan daya baca rendah. Tulisan akademik yang mengerutkan kening akan ia hindari. Selain itu lemah moralnya yang indikasinya ada perbuatan korups.

Kaum berideologi fatalisme untuk menundukkan suatu bangsa agar SDA dan aset ekonomi tetap mereka kuasai tipe pemimpin yang lemah itu yang bisa mereka jadikan robot.

Untuk hal itu mereka akan menghadapi kaum intelektual, kaum agamis dan rakyat awam kebanyakan. Bagi kaum intelektual mereka upayakan jargon pembangunan yang berkelanjutan dan untuk citarasa pemilihnya untuk sosok itu mereka masih tetap menggunakan angka survey tinggi dan dinyatakan pula yang bersangkutan memiliki tingkat intelektual tinggi, melalui surveyor berbayar.

Untuk kaum beragama disamping ada angka survey tentang keberadaan sosok yang mereka katagorikan sangat taat beragama dibanding sosok lain, mengunjungi ulama atau kyai dan sesekali pakai kopiah dan baju Koko seperti pakaian santri.

Untuk rakyat awam mereka ekploitasi psikologisnya melalui alat digital seperti makan dan minum di warteg pinggir jalan, atau sesekali ke gorong-gorong, lari pagi atau lari maraton, itulah kemampuan yang dimiliki.

Kekuatan media massa dan media visual jadi gambar berupa sosok yang hadir dengan  angka yang tinggi itu yang langsung bisa ditangkap oleh mata.

Untuk itu jangan lupa kaum pembuat fatalisme akan terus menerus mengulang-ulang penayangannya  sepanjang tahun, hal itu yang akan menjadi pembenaran bahwa itulah sosok yang dibutuhkan sesungguhnya untuk merubah wajah bangsa dan nasib rakyat.

Kaum fatalisme memang berasal dari manusia robot yang berakal tapi tak berhati. Mereka robot hawanafsu yang bisa dilatari oleh dewa harta padahal hartanya sudah tak terkira  yang jumlahnya sudah triliunan, sementara ratusan juta rakyat hanya jutaan atau ratusan ribu perbulannya. Atau ada pula dewa ideologi tertentu, ideologi memiskinkan suatu bangsa atas dasar keyakinan yang dianggapnya suci.

Kaum robot potensial akan mencipta robot di media massa,  di lembaga survey dan buzzer berbayar yang juga potensial akan mencipta robot di istana dan parlemen, di MK, KPK dan panitia pemilu dan bisa juga di partai dan ormas.

Faham fatalisme dengan dukungan keuangan didukung oleh faksi keilmuan, ada faksi angka dan faksi memutarbalikkan fakta akan terus mencetak pemimpin robotik di istana dan parlemen dan lainnya itu.

Mereka menjalani hidup fatalisme dan terus menggores bangsa itu berada di kolam fatalisme yang menggambarkan manusia di bangsa itu hidup tapi tak hidup dan menghasilkan bangsa yang tak eksis di tengah bangsa yang lain. Nasib anak bangsa kembali ke jiwa manusia Nusantara seabad yang lalu.

Dunia fatalisme dalam prespektif teologis adalah kaum jabariyah dan ada pilihan lain yakni pengikhtiar yang bisa memilih paham keseimbangan yakni qodariaisme dari manusia  yang berakal dan berhati melakukan ikhtiar yang optimal dengan segenap potensi yang diberikan Tuhan padanya.

Rakyat, baik dan layaknya memilih  pemimpin patriotik untuk bangsa dan  atau pemimpin mendekati karakter ala nabi yang fathonah, amanah dan tabligh sehingga nabi pada masanya dan di era klasik pengikutnya bisa mengangkat bangsanya ke alam kehidupan yang berdimensi luas.

Melalui sosok pemimpin itu bangsa tergambar bukan bangsa yang fatalisme lagi yang bisa memanfaatkan potensi yang dimiliki baik potensi alam dan potensi manusianya. Bangsa yang kemudian hutangnya misalnya kini di angka 8000 triliun di tahun 2023 dan dalam waktu lima tahun nanti bisa berada di angka 2600 triliun angka di tahun 2014 (klik google, hutang pemerintah 2014/2023). Angka kemiskinan dan pengangguran yang angkanya puluhan juta dan bahkan versi Bank dunia 110 juta akan berkurang di angka yang minimalis. Bangsa itu telah keluar dari bangsa fatalisme dan telah menunjukkan bahwa pemimpinnya dan anak bangsanya bukan robot dan robotik  karena  telah muncul pemimpin yang patriotik untuk bangsa dan rakyatnya dari rakyat yang telah cerdas memilih pemimpinnya. Wallahua’lam.

Penulis adalah Akademisi dan pengamat politik,  keagamaan di UIKA Bogor.

Editor: Taufid Chaniago


Apresiasi Spesial

Dukungan Anda membantu kami menyajikan berita berkualitas.

5rb
20rb
50rb
×

Scan QRIS Berita Super

Silakan selesaikan pembayaran melalui aplikasi e-wallet Anda.

  • Opini, Patriotik, Pemimpin, Robotik
PrevSebelumnyaKaum Cawe – Cawe di Pemilu Nanti
TerbaruPemilu dan Manusia PensurveiNext
Desa
Tani
Nelayan
Desa

Potret Forkopimcam Balongan Hadiri Mapag Sri di Desa Sukareja. (ist)

Forkopimpcam Balongan Hadiri Acara Mapag Sri di Desa Sukareja, Semoga Petani Hasilkan Padi yang Melimpah

Potret Kantor Kuwu desa Sukasari Kecamatan Arahan. (ist)

Tiga Pamong Desa Sukasari Mengaku Siap Hadapi Kebijakan Penjabat Kuwu

Potret perangkat desa Sudimampir lor, Camat Balongan, Sekmat Balongan, UPTD Pertanian Indramayu, BPP Balongan, UPI Rencana, BBWS Cisanggarung KTNA Kecamatan Balongan, Kelompok tani saat ubinan di desa Sudimampir Lor. (ist)

Camat Balongan Dampingi BPP Balongan Lakukan Ubinan di Desa Sudimampir Lor

Potret Kuwu desa Sudimampir Lor, Ade Nanto bersama Kapolsek Balongan dalam Acara Mapag Sri tahun 2026. (ist)

Pemdes Sudimampir Lor Gelar Acara Mapag Sri, Ungkapan Rasa Syukur Bagi Para Petani

Potret Kegiatan perdana Tradisi Mapag Sri di era Kuwu Mukmin desa Rawadalem. (ist)

Lestarikan Kearifan Lokal, Pemdes Rawadalem Gelar Mapag Sri Perdana

Tani

Potret papan informasi pekerjaan pemeliharaan jaringan irigasi tersier desa Rajasinga. (ist)

Petani Rajasinga Sambut Baik Pemeliharaan Jaringan Irigasi

Photo Babinsa Kaweron Koramil 0808/16 Talun Serda Edi Prasetiyo, 19/10/2025 (Ist)

Wujud Kepedulian TNI Pada Ketahanan Pangan, Babinsa Kaweron Bantu Petani Tanam Padi

Ketahanan Pangan Jagung di Desa Bojong Kulon Terus Ditingkatkan

Serikat Tani Indramayu Demo Tuntut Fasilitas Penunjang Pertanian

Semua Camat ‘Ngantor’ di Pintu Air Nina Agustina: Tindak Tegas Jika Ada Mafia Air

Nelayan

Potret Bupati Indramayu, Lucky Hakim Blusukan Tinjau Langsung Pengerukan Pelabuhan Dadap, 23/10/2025 (Ist).

Lucky Hakim Blusukan, Percepat Pelabuhan Dadap Untuk Mengangkat Perikanan Indramayu

Kemeriahan Pesta Laut di Pesisir Pantai Karangsong Indramayu

SPBUN dan Asuransi Perikanan untuk Perlindungan Nelayan Kecil

Pasokan Ikan Aman, Menteri KKP Pantau Produksi di Indramayu

Longboat Berpenumpang 11 Orang Selamat Setelah Alami Kerusakan Mesin di Perairan Maluku Tenggara

Berita lainnya

Coffee dan Cafe Ajib Jabon, Tempat Nongkrong Paling Asyik dan Nyaman di Kampus Polindra

Sikap Elegan Ini Akan Membuat Hidup Lebih Tenang Saat Dijalani

Potret Forkopimcam Balongan Hadiri Mapag Sri di Desa Sukareja. (ist)

Forkopimpcam Balongan Hadiri Acara Mapag Sri di Desa Sukareja, Semoga Petani Hasilkan Padi yang Melimpah

Potret Rapat Paripurna DPRD Indramayu Bahas dua Raperda. (ist)

Rapat Paripurna DPRD Indramayu Bahas Pandangan Fraksi Terhadap Dua Raperda

PC PMII Kota Kupang Kecam Tindakan Represif & Abainya Pemerintah Daerah

Potret Market Day Tahunan TK Nampa Subaya desa Sudimampir Lor tanamkan edukatif lewat jiwa wirausaha. (ist)

TK Nampa Subaya Sudimampir Lor Tanamkan Jiwa Wirausaha Lewat Market Day Tahunan

Potret Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bengkulu Utara, Sutrino. (ist)

Kuasai Digital Dari Lagita, Semangat Baru Masyarakat Kawasan Transmigrasi Menembus Pasar Digital

Nikita Willy Ungkap Alasan Berhijab: Aku Ingin Jadi Contoh yang Baik untuk Anak

Potret aksi demo mahasiswa Topi Jerami di depan Gedung DPRD Indramayu. (ist)

Demo Mahasiswa Topi Jerami Berujung Ricuh, Massa Lempar Ular ke Arah Aparat

Potret pengangkutan sampah di TPS Tegalurung. (ist)

Kuwu Abdullah Dorong DLH Indramayu Cari Solusi Penanganan Sampah

WARTA

  • Warta Terkini
  • Warta Desa
  • Warta Tani
  • Warta Nelayan
  • Desa Dalam Angka
  • Warta Terkini
  • Warta Desa
  • Warta Tani
  • Warta Nelayan
  • Desa Dalam Angka

FEATURED

  • Inspirasi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Teknologi
  • Foto
  • Inspirasi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Teknologi
  • Foto

INTEREST

  • Budaya
  • Budidaya
  • Bencana
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Sosial
  • Wisata
  • Icip-Icip
  • UMKM
  • Budaya
  • Budidaya
  • Bencana
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Sosial
  • Wisata
  • Icip-Icip
  • UMKM

INFORMASI

  • Beasiswa
  • Loker
  • Jual Beli Rangkas
  • Properti
  • Beasiswa
  • Loker
  • Jual Beli Rangkas
  • Properti
  • TENTANG KAMI
  • KONTAK
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK
  • TENTANG KAMI
  • KONTAK
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK

Copyright © 2026 kagetnews.com - All Right Reserved

© 2026 Kagetnews.com. All right reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

  • Warta
    • Warta Terkini
    • Warta Desa
    • Warta Tani
    • Warta Nelayan
    • Desa Dalam Angka
  • Featured
    • Inspirasi
    • Pendidikan
    • Teknologi
    • Foto
    • Apa Kata Pembaca
    • Aspirasi
  • Interest
    • Bencana
    • Budaya
    • Budidaya
    • Kesehatan
    • Sosial
    • Wisata
    • Icip-Icip
    • UMKM
  • Informasi
    • Jual Beli Rangkas
    • Beasiswa
    • Loker
    • Properti