Kagetnews.com | Cirebon – Mahasiswa semester 4 STID Al Biruni menggelar kegiatan sharing session bertema manajemen keuangan bisnis pada Senin (25/05/2026) di kampus STID Al Biruni Babakan Ciwaringin, Cirebon.
Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka memenuhi mata kuliah entrepreneurship tersebut menghadirkan Zaki Mubarok atau yang akrab disapa Kang Zaki, selaku CEO Es Teh Koboi yang kini telah memiliki lima outlet di berbagai wilayah dalam kurun waktu dua tahun.
Dalam pemaparannya, Kang Zaki menjelaskan bahwa manajemen keuangan merupakan seni dalam mengelola uang. Menurutnya, mencari uang membutuhkan skill dan tenaga, sedangkan mengatur uang membutuhkan kebiasaan atau habit yang baik. Ia menekankan bahwa banyak usaha gagal bukan karena tidak mampu menghasilkan uang, melainkan karena tidak mampu mengelola keuangan dengan benar.
Kang Zaki juga menyampaikan bahwa membangun bisnis membutuhkan modal, namun ia mengingatkan agar para pemula tidak memulai usaha dengan hutang. “Syarat pertama membangun bisnis adalah jangan dimulai dengan hutang,” ungkapnya di hadapan peserta sharing session. Ia menjelaskan pentingnya menjaga kestabilan keuangan usaha sejak awal agar bisnis dapat berkembang secara sehat dan bertahan dalam jangka panjang.
Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya cash flow atau pencatatan arus keuangan masuk dan keluar. Menurutnya, seorang pebisnis tidak boleh menjalankan usaha hanya berdasarkan perasaan, melainkan harus berdasarkan data dan perhitungan yang jelas. Kang Zaki membedakan antara mindset pedagang dan mindset pebisnis. Jika pedagang hanya fokus membeli dan menjual barang untuk mendapatkan selisih keuntungan, maka seorang pebisnis harus mampu memikirkan strategi jangka panjang, pengembangan usaha, hingga keberlanjutan bisnis.
Dalam sesi tersebut, Kang Zaki turut menjelaskan konsep Break Even Point (BEP), yakni titik impas di mana usaha tidak mengalami keuntungan maupun kerugian. Ia menerangkan rumus sederhana BEP, yaitu biaya tetap dibagi selisih antara harga jual dan harga pokok produksi (HPP). Adapun biaya tetap yang dimaksud meliputi pengeluaran rutin setiap bulan seperti gaji karyawan dan biaya sewa tempat usaha.
Dosen pengampu mata kuliah entrepreneurship, Ahmad Syarofi, memberikan tanggapan positif terhadap kegiatan tersebut. Ia menilai sharing session ini sangat penting untuk membuka wawasan mahasiswa mengenai realitas dunia bisnis secara langsung. “Mahasiswa tidak hanya belajar teori di dalam kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman dan pemahaman praktis dari pelaku usaha yang benar-benar menjalankan bisnis. Ini menjadi bekal yang sangat berharga bagi mahasiswa untuk membangun mental dan pola pikir entrepreneur,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu mahasiswa peserta kegiatan, Solikin, mengaku mendapatkan banyak ilmu baru, terutama tentang pentingnya pencatatan keuangan dalam usaha. Menurutnya, materi yang disampaikan sangat relevan dengan kondisi usaha masa kini dan mudah dipahami oleh mahasiswa.
Hal serupa juga disampaikan oleh Santi. Ia merasa termotivasi setelah mengikuti kegiatan tersebut. “Sharing session ini membuat saya lebih memahami bahwa membangun bisnis bukan hanya soal jualan, tetapi juga tentang bagaimana mengatur keuangan dan memikirkan strategi jangka panjang,” tuturnya.
Kegiatan berlangsung dengan antusias dan interaktif. Para peserta aktif bertanya serta berdiskusi mengenai pengalaman membangun usaha, pengelolaan keuangan, hingga tantangan dalam menjalankan bisnis di era modern.*** (Red)
Apresiasi Spesial
Dukungan Anda membantu kami menyajikan berita berkualitas.
Scan QRIS Berita Super
Silakan selesaikan pembayaran melalui aplikasi e-wallet Anda.






















