Oleh: Zikri Resa Hasrian
Bakal Calon Kandidat Direktur Eksekutif Bakornas LKMI PB HMI
Kagetnews | Opini – Indonesia Emas 2045 bukan hanya sekedar slogan politik, melainkan sebuah visi yang memuat harapan negara mandiri, makmur, dan diperhitungkan di kancah internasional. Dalam mewujudkan hal tersebut, Pembangunan manusia menjadi fondasi utama seperti pendidikan dan teknologi yang sering sekali menjadi sebuah pusat perhatian. Namun ditengah berbagai usaha itu, muncul sebuah pertanyaan yang sangat mendasar, apakah sektor kesehatan sudah ditempatkan menjadi prioritas yang sangat strategis?
Fakta di lapangan memperlihatkan bahwa pembangunan kesehatan diakui sangat penting secara normatif, implementasinya belum seutuhnya sejalan. Kesehatan selalu diperhatikan ketika terjadinya sebuah krisis, bukan ditaruh sebagai investasi jangka panjang untuk mendukung produktivitas dan persaingan bangsa. dalam pengalaman global menunjukkan bahwa tanpa masyarakat yang sehat, investasi di sektor lainnya tidak akan memberikan hasil yang optimal.
• Dimensi Kesehatan dalam Kualitas SDM
Investasi pada SDM yang berkualitas tidak hanya melalui pendidikan dan pelatihan. Kesehatan menjadi salah satu aset utama dalam terciptanya Pembangunan bangsa. Di bidang Kesehatan menurut Badan Pusat Statistik (BPS), angka harapan hidup negara Indonesia mencapai 72,39 tahun (data 2024). Sangat jauh untuk mencapai usia 80 tahun lebih seperti negara negara maju yang lain.
Pentingnya kesehatan merupakan bagian tak terpisahkan dari pembangunan manusia. Misalnya masalah stunting, memperlihatkan kegagalan negara dalam menjamin tumbuh kembang dan gizi anak. Data Kementerian Kesehatan (2024) menunjukkan angka stunting di Indonesia masih di angka 19,8%, dimana masih jauh dari target di 2029 yaitu 14%. Ini tidak hanya sekedar soal tinggi badan, tetapi menyangkut kemampuan berfikir dan performa ekonomi kita di masa depan.
• Tantangan Bonus Demografi: Peluang yang Tidak Bisa Terulang
Investasi pada SDM yang berkualitas tidak hanya melalui Pendidikan dan pelatihan. Kesehatan menjadi salah satu asset utama dalam terciptanya Pembangunan bangsa. Di bidang Kesehatan menurut Badan Pusat Statistik (BPS), angka harapan hidup negara Indonesia mencapai 72,39 tahun (data 2024). Sangat jauh untuk mencapai 80 tahun lebih, seperti negara negara maju yang lain.
Pentingnya kesehatan merupakan bagian tak terpisahkan dari Pembangunan manusia. Misalnya masalah stunting, memperlihatkan kegagalan negara dalam menjamin tumbuh kembang dan gizi anak. Data Kementerian Kesehatan (2024) menunjukkan angka stunting di Indonesia masih di angka 19,8%, dimana masih jauh dari target di 2029 yaitu 14%. Ini tidak hanya sekedar soal tinggi badan, tetapi menyangkut kemampuan berfikir dan performa ekonomi kita di masa depan.
• Tantangan Bonus Demografi : Peluang yang Tidak Bisa Terulang
Bonus demografi merupakan salah satu perubahan dinamika demografi yang terjadi
dikarenakan adanya restrukturisasi penduduk berdasarkan umur. Terjadi karena berkurangnya angka kelahiran serta dibarengi oleh tingginya angka kematian dalam jangka panjang,
berdampak pada pengurangan jumlah penduduk berusia muda (di bawah 15 tahun), akan tetapi di satu sisi jumlah usia produktif (15 – 64 tahun) akan meningkat secara drastis.
Tren penyakit tidak menular kini menjadi ancaman kesehatan di Masyarakat. Pergeseran gaya hidup masyarakat yang semakin modern serta adanya perubahan iklim turut berdampak pada pergeseran pola penyakit seperti penyakit tidak menular dan menyerang anak muda. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini justru akan menciptakan beban baru bagi system ekonomi dan jaminan sosial, menggugurkan potensi bonus demografi yang hanya datang sekali dalam sejarah sebuah bangsa.
Ketimpangan layanan dan keadilan sosial ketimpangan dalam akses layanan Kesehatan merupakan masalah serius yang masih dihadapi oleh negara kita. Di Indonesia, terdapat perbedaan yang sangat signifikan dalam hal akses layanan kesehatan antara kota besar dengan daerah terpencil.
Penting untuk dipahami bahwa Kesehatan yang baik bukan hanya sekedar mengobati penyakit, tetapi juga mencakup pencegahan, pemeliharaan kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Ketimpangan ini mengancam integrasi nasional dan memperlebar jurang
antar wilayah. Negara yang bertekad menjadi besar harus bisa memastikan bahwa seluruh warga negara memiliki hak yang merata untuk hidup sehat, tanpa terkecuali.
• Apakah kesehatan sudah menjadi prioritas nyata?
Meskipun sektor Kesehatan diakui penting dalam perencanaan, realisasi anggaran menunjukkan hal sebaliknya Pendanaan Kesehatan menjadi salah satu poin perubahan krusial tepatnya terkait mandatory spending atau besaran pengeluaran yang harus dialokasikan pemerintah di sektor kesehatan. Sebelumnya, pasal 171 UU No 36 Tahun 2009 mengatur alokasi anggaran Kesehatan dari pemerintah pusat adalah 5% dari APBN dan 10% dari APBD. Namun aturan tersebut dihapuskan dalam UU No 17 Tahun 2023 saat ini.
Jika mengacu dari angka tersebut, itu merupakan angka yang sangat kecil dibandingkan dengan negara maju seperti Amerika Serikat sebesar 16,4% dan Jerman sebesar 13,24%. Ini menunjukkan bahwa Kesehatan belum sepenuhnya dilihat sebagai pilar utama Pembangunan nasional. Menurut studi WHO menunjukkan bahwa investasi pada pencegahan penyakit jauh lebih efisien dibanding pembiayaan pengobatan.
• Langkah Strategis Menuju 2045
Jika Indonesia ingin benar – benar mencapai cita – cita besar di tahun 2045, maka sektor kesehatan harus diletakkan sejajar dengan ekonomi dan Pendidikan. Beberapa Langkah yang perlu dilakukan ialah :
1. Meningkatkan alokasi anggaran Kesehatan secara berkelanjutan dengan fokus pada layanan primer dan pencegahan penyakit.
2. Memperkuat layanan Kesehatan di Tingkat komunitas, terutama posyandu dan puskesmas.
3. Menjamin distribusi tenaga Kesehatan yang merata hingga ke pelosok negeri.
4. Mendorong kolaborasi lintas sektor, agar lingkungan, transportasi, Pendidikan, dan pangan turut serta mendukung Kesehatan Masyarakat.
5. Membangun literasi Kesehatan, terutama pada generasi muda.
Kesimpulan
Menjadikan Kesehatan sebagai prioritas bukan pilihan, melainkan keharusan. Tanpa generasi yang sehat, usaha untuk meningkatkan mutu Pendidikan dan pertumbuhan ekonomi akan sia-sia. Pembangunan Kesehatan bukan sekedar pelayanan medis, tetapi juga soal masa depan bangsa. Jika sektor Kesehatan terus dipandang hanya sebagai pelengkap, bukan fondasi strategi pembangunan, maka kita harus kubur amat dalam cita-cita besar kita yaitu Indonesia Emas 2045. Kita akan membayar mahal produktivitas rendah, angka penyakit tinggi, dan mimpi menjadi sebuah negara maju hanya tinggal wacana.
Sebaliknya, dengan menjadikan kesehatan sebagai investasi utama, negara ini akan lebih siap meghadapi abad kedua kemerdekaannya sebagai bangsa yang sangat kuat bukan hanya dari sisi ekonominya, tetapi juga dari sisi manusianya.





















