Oleh: Dr. Suhaeli Nawawi., M. Si.
Kagetnews | Religi – Allah berasal dari kata “ilah, اله” yg artinya semua sesembahan dan “al ma’rifah, ال معرفة” yg fungsinya untuk “mengkhususkan”. Ilah dan al (ال dan ilah) kemudian digabungkan menjadi Allah, الله. Penggabungan al/ال dan ilah/اله berdasarkan kaidah morfologi (bentuk kata) bahasa Arab atau لغة العربية mengakibatkan huruf alif (ا) pada kata ilah/اله mengalami peluluhan yg dalam Linguistik/الغة disebut sinkope. Sedangkan, huruf “l/ل” yg terdapat dalam al/ال dan ilah/اله tetap dipertahankan, namun berubah penulisan dan pengucapan, yakni dalam bentuk “ل” bertasvdid (لً).
Perubahan bentuk kata (morfologi) diikuti oleh perubahan makna. Selanjutnya masalah makna dibahas atau menjadi ranah Semantik/المعنى. Setelah menjadi kata Allah/الله, objek kata itu merujuk ke entitas tunggal sebagai pencipta alam semesta (kaun/كون) dan yang menurunkan Alquran yang awalnya berupa bahasa lisan/قول. Itulah sebabnya ada istilah “Ayat kauniah/كونية (alam) dan ayat kauliah/كولية (bahasa lisan)”.
Dalam pergaulan antarbudaya, kontak bahasa tak terhindarkan. Akibatnya, banyak kata/istilah yang diserap oleh bahasa yang digunakan pemakainya. Jika pemakainya berasal dari komunitas-komunitas berasal dari kaum/قوم yang artinya sekelompok orang penganut agama tertentu, maka kontak bahasa sudah pasti akan terjadi. Penyerapan kata /istilah biasanya hanya terjadi dalam bentuk bahasa (morfologi/صرف)، namun tidak sampai pada makna (semantik/المعنى).
Dalam kasus penggunaan kata/istilah Allah/الله oleh komunitas Nasrani juga hanya terjadi dalam morfologi, tidak pada semantik. Dengan kata lain, Allah menurut Islam berbeda makna menurut Nasrani. Contoh lain, penggunaan kata sembahyang oleh komunitas Islam berbeda makna menurut komunitas Budha atau Hindu. Penggunaan kata tuhan pun seperti itu. Dalam kajian Islam jika Tuhan merujuk ke Allah, maka ditulis dengan huruf “T” besar. Namun, jika merujuk ke semua sesembahan, maka ditulis dengan “t” kecil, yakni “tuhan”. Itu berarti kata tuhan dengan”t” kecil searti dengan ilah (اله), sedangkan Tuhan dg T besar searti dengan Allah (الله).
• Tulisan yang Ditanggapi
Sejak Kapan Umat Kristen Indonesia Menggunakan Kata “Allah”?
Umat Kristen di Indonesia sejak abad XVI telah menggunakan kata “Allah” dalam terjemahan Alkitab.
Dalam terjemahan bahasa Melayu dan Indonesia, kata “Allah” sudah digunakan terus menerus sejak terbitan Injil Matius dalam bahasa Melayu yang pertama (terjemahan Albert Corneliz Ruyl, 1629). Begitu juga dalam Alkitab Melayu yang pertama (terjemahan Melchior Leijdekker, 1733) dan Alkitab Melayu yang kedua (terjemahan Hillebrandus Cornelius Klinkert, 1879) sampai saat ini.
Kata “Allah” sudah digunakan bangsa Arab semenjak zaman pra-Islam. Umat berbagai agama samawi yang menuturkan bahasa Arab sama-sama menggunakan kata “Allah” sebagai sebutan bagi Sembahan/Ilah menurut keyakinan masing-masing. Sebagian umat Kristen Arab sekarang ini juga kerap memakai kata “Allah” untuk padanan kata Tuhan tetapi nama atau proper name.
Sebagai contoh, umat Kristen Arab memakai istilah:
Allahul Ab (الله الأب) untuk Allah Bapa, Allahul Ibin (الله الابن) untuk Allah Anak/Putra, dan Allahur Ruhul Quds (الله الروح القدس) untuk Allah Roh Kudus.
Kamus Belanda-Melayu pertama yang disusun A.C. Ruyl, Justus Heurnius, dan Caspar Wiltens (terbit tahun 1650) mencantumkan kata “Allah” sebagai padanan kata Belanda “Godt”
Umat Kristen di Indonesia dan Malaysia menggunakan kata “Allah” sebagai terjemahan kata bahasa Ibrani Elohim (אֱלֹהִים, elohím) dan kata-kata serupa di Perjanjian Lama serta kata bahasa Yunani Theos (θεός, theós).
Begitu juga kata-kata serupa di Perjanjian Baru pada Alkitab-Alkitab terjemahan bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia (keduanya merupakan bentuk baku dari bahasa Melayu dan bahasa resmi di negara terkait), terutama dalam Alkitab Terjemahan Baru yang dipakai oleh Gereja-Gereja denominasi Kristen arus utama (termasuk Gereja Katolik) di Indonesia. Pelafalannya juga menggunakan pelafalan “Alah” dan bukan pelafalan “Aulloh”.
Perlu dicatat bahwa kata “Tuhan” sendiri digunakan sebagai terjemahan untuk kata Ibrani Adonai (אֲדֹנָי, ăḏônāy) dan kata-kata serupa di Perjanjian Lama serta kata Yunani Kirios (κῡ́ρῐος, kū́rios) kata-kata serupa di Perjanjian Baru.
Sedangkan kata “TUHAN” untuk menerjemahkan nama Yahweh (יהוה, YHWH, Tetragrammaton) dan sebutan-sebutan serupa di Perjanjian Lama.
• Sejarah
Sejarah penggunaan kata “Allah” di tengah kalangan umat Kristen Indonesia dapat ditelusuri jauh pada waktu masuknya Kekristenan di Nusantara, terutama pada penggunaan kata tersebut oleh Fransiskus Xaverius saat menerjemahkan nas-nas Alkitab ke dalam bahasa Melayu pada abad ke-16.
Di dalam kamus bahasa Belanda–Melayu pertama yang disusun Albert Cornelius Ruyl, Justus Heurnius, dan Caspar Wiltens pada tahun 1650, kata “Allah” dicantumkan sebagai padanan kata Belanda “Godt”.
Albert Cornelius Ruyl, seorang pedagang Belanda yang juga ikut menyusun kamus bahasa Belanda–Melayu tersebut, menerjemahkan Alkitab ke Bahasa Melayu pada tahun 1962.
Di dalam terjemahannya ini sudah memuat kata Allah. Saat itu, bahasa yang dipakai adalah Bahasa Melayu, sebagai bahasa perantara (lingua franca) bukan hanya di Kepulauan Nusantara, melainkan juga hampir di seluruh Asia Tenggara. Bahasa Melayu mulai dipakai di kawasan Asia Tenggara sejak abad ke-7. Kata “Tuhan” belumlah digunakan.
Buku pertama yang memberi keterangan tentang hubungan kata tuan dan Tuhan adalah Ensiklopedi Populer Gereja oleh Adolf Heuken SJ pada tahun 1976.
Menurut buku tersebut, arti kata Tuhan ada hubungannya dengan kata Melayu tuan yang berarti atasan/penguasa/pemilik. Jadi yang terjadi pada umat Kristen di Nusantara dulu seperti yang terjadi pada umat Kristen di Arab, mereka hanya mengenal kata Allah sebagai pengganti kata Yunani “Theos”.
Baik bagi umat Kristen di Indonesia dan Arab, kata Allah bukanlah sebagai nama pribadi dari yang disembah melainkan hanya sebutan atau kata jabatan. ***





















