Oleh : Ramli Yudarsana (Pengamat Sosial)
Kagetnews | Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia secara etimologi merdeka berarti bebas Kemerdekaan artinya kebebasan. Sedangkan secara terminologi, Merdeka artinya adalah bebas dari segala penjajah dan penjajahan atau penghambaan.
“Kemerdekaan adalah suatu keadaan di mana seseorang atau negara bisa berdiri sendiri, bebas dan tidak terjajah”
Berdasarkan hasil penelitian Saepurohman dalam tesisnya yang berjudul ‘Peranan; Sarekat Islam; Kemerdekaan (2022)”, diperoleh kesimpulan bahwa kondisi masyarakat Indonesia sebelum merdeka sangat memprihatinkan, penuh dengan eksploitasi, diskriminasi dan adanya stratifikasi sosial dimulai dari abad ke 17- abad ke 19. Keadaan ini memicu keprihatian yang mendalam dari tokoh-tokoh ulama masa itu. Mereka bangkit menggelorakan semangat perjuangan resolusi jihad melawan penjajahan.
Thomas S. Raffles, seorang Letnan Gubernur EIC (1811-1816) pun mengakui kontribusi para ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan. Dalam sebuah kesempatan, ia pernah mengatakan:
“Karena mereka (ulama) begitu dihormati, maka tidak sulit bagi mereka untuk menghasut rakyat agar memberontak. Dan mereka menjadi alat yang paling berbahaya di tangan penguasa pribumi yang menentang kepentingan pemerintahan kolonial.”
Mengutip buku Sejarah Hukum Indonesia karya Prof. Dr. Sutan Remi Syahdeini (2021),
kegigihan mereka tak lepas dari konsep jihad yang diyakini. Mereka beranggapan bahwa penjajah adalah orang zalim yang telah merampas kedaulatan umat serta ingin menghancurkan agama Islam. Ribuan ulama nusantara menjadi pelaku perjuangan memimin umat bergrilya masuk hutan keluar hutan disamping tugas utamanya mengajarkan agama Islam kepada umat. kalau kita kupas profil ulama-ulama yang sangat berjasa atas kemerdekaan ini diruang ini tidak akan mencukupi, berikut salah satu profil ulama sholeh dari sumatra hanya untuk pelajaran bagi kita semua.
Salah satu profil ulama yang menjadi inspirasi dalam perjuangan kemerdekaan adalah Syekh Abdul Somad Al Palimbani. Beliau adalah ulama tasawuf asal Palembang. Lahir pada tahun 116 Hijriyah atau bertepatan dengan 1704 Masehi.
Masa kecil ia jalani pada saat Kesultanan Palembang Darussalam. Ia berada di bawah kepemimpinan Sultan Mahmud Badaruddin 1. Palembang saat itu menjadi pusat pengkajian dan pembelajaran Islam yang sangat vital di wilayah Melayu-Nusantara.
Al Palimbani mengawali pendidikannya di Kedah dan Pattani (Thailand). Ia kemudian berlayar ke tanah suci Mekkah untuk menuntut ilmu. Mekkah saat itu masih berada di bawah kekuasaan Khilafah Utsmaniyah. Di sana ia belajar ilmu dari sejumlah ulama yang berpengaruh. Di Mekah Ia aktif menulis sejumlah kitab termasuk tentang jihad. Di dalam kitabnya ia menyerukan genderang perang melawan kafir penjajah.
Meskipun Ia berdomisili di Haromain ia Masih memikirkan kondisi tanah airnya. Salah satu kitab jihad yang ia tulis berjudul Nasihatul MusliminI. Di sana ia mencantumkan dalil-dalil dari Al Quran tentang mensyariatkan jihad. Ia juga memasukkan hadis-hadis motivasi dan kemudian menjelaskan kemuliaan menjadi Syuhada. Uniknya di antara hadis yang dikutip berisi juga keutamaan jihad di lautan. Ini menunjukkan bagaimana ia memahami kondisi teritorial wilayah nusantara. Tak berselang lama setelah ia mempublikasikan kitab Nasihatul Muslimin.
Ia mengirim surat kepada para Sultan di nusantara, dia mengajak pemimpin dan rakyat untuk mengangkat senjata melawan penjajah. Namun sayang surat-surat yang ia titipkan pada jamaah haji asal Nusantara ditahan dan disita oleh penjajah Belanda yang saat masih di tengah perjalanan. Salah satu suratnya yang kini terarsip di perpustakaan Belanda bertuliskan:
“Segala puji bagi Allah dan shalawat kita curahkan kepada Baginda Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam surat ini hadir dari rahmat Allah yang telah menggerakkan hati penulis untuk mengirimkan sepucuk surat dari Mekkah. Sebab rahmat Tuhan yang begitu agung laksana cahaya bintang-bintang yang menghiasi cakrawala semuanya membentuk kerlap-kerlip cahaya yang indah menerangi angkasa yang gelap gulita sebagai cahaya di atas taman surga taman yang tak terkira.
Tuhan telah menjanjikan bahwa para Sultan akan mendapatkan surga karena keluhuran budi, kebajikan dan keberanian yang tiada tara dalam melawan musuh kafir penjajah. Termasuk diantaranya adalah para raja Jawa yang berpegang teguh pada agama Islam dan menegakkan keadilan dalam setiap kebijakan serta tak gentar berperang melawan para musuh itu.
Allah menegaskan hal itu dalam firmannya : “Dan janganlah kamu mengatakan orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. sebenarnya mereka hidup tetapi kamu tidak menyadarinya (Al-Baqarah: 154). Orang-orang yang terbunuh dalam Perang Sabil dihiasi dengan keharuman surgawi jadi ini merupakan peringatan untuk seluruh pengikut Nabi Muhammad. Rahmat Allah menyertai seluruh kaum muslimin yang berjalan di atas kebenaran. Perang melawan penjajah adalah misi Suci untuk meraih kehidupan di jalan Allah bagi kaum muslimin tidak ada yang ditakuti kecuali hanya takut tidak mendapatkan rahmat Allah Yang Mulia”
Kitab nasihatul muslimin menurut Snouck Hurgronje dijadikan rujukan Penulisan kitab “Hikayat Perang Sabil” yang berisikan bait-bait syair Aceh. Hikayat ini diterbitkan oleh kerajaan Islam Aceh untuk memotivasi Rakyat Aceh saat itu untuk melawan “kaphe” penjajah :
“Dengarlah berita zaman dahulu
Seorang laki-laki datang kepada Nabi
Dia bertanya tentang pahala berperang
Lalu Rasulullah menjawab surga yang luas
Allah berikan tambahan lagi dengan Bidadari
Demi orang itu mendengar Sabda
Timbulah semangat dari hati bergelora
Di tangannya ada 6 biji kurma
Belum selesai dimakan segera dibuang
Tak sempat selesai kurma dimakan langsung terjun ke medan perang.”
Melanjutkan Misi Kemerdekaan
Pasca kemerdekaan bukan berarti peran ulama dipensiunkan. Sibuk mengajar tanpa peduli keadaan kekinian. Apakah kemerdekaan sudah berjalan pada tujuan yang benar apa menyimpang jauh dari misi kemerdekaan.
Para ulama harus memahami tentang misi kemerdekaan. Islam datang telah membebaskan manusia dari belenggu penghambaan manusia atas manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah. Dahulu manusia terjebak pada penghambaan kepada selain Allah dengan menyembah berhala bintang ataupun binatang maka diserukanlah oleh Rasulullah suatu ajaran yang intinya Hanya Allah lah yang berhak disembah satu-satunya yaitu konsep Tauhid.
Kondisi sosial pun tak luput jadi sorotan saat itu terjadi sebuah penindasan kultural oleh masyarakat Quraisy kepada wanita yang saat itu wanita ditempatkan di kasta yang sangat rendah; tak ubahnya seperti benda yang bisa diwariskan oleh pemiliknya kepada orang lain. Maka tradisi buruk tersebut di dobrak oleh seruan bahwa seluruh manusia sama di hadapan Allah yang membedakan hanya taqwanya, tidak membedakan lelaki atau perempuan ataupun warna kulitnya. Kondisi ekonomi pada masa jahiliyah lebih menguntungkan kepada kalangan kalangan bangsawan. Mereka memberi pinjaman kepada rakyat kecil dengan bunga yang tinggi sehingga ketika ada kemacetan dalam mengangsur maka utang semakin berlipat ganda, peminjam uang siap-siap kehilangan semua hartanya termasuk kemerdekaan dirinya.Islam datang memberantas riba dan perbudakan.
Jadi Misi Islam mewujudkan kemerdekaan untuk seluruh umat manusia itu juga terungkap kuat dalam dialog Jenderal Persia, Rustum, dengan Rib’i bin ‘Amir.
Jenderal Rustum bertanya kepada Rib’i bin ‘Amir, “Apa yang kalian bawa?”
Rib’i bin ‘Amir menjawab, “Allah telah mengutus kami. Demi Allah, Allah telah mendatangkan kami agar kami mengeluarkan siapa saja yang bersedia, dari penghambaan kepada sesama hamba (sesama manusia) menuju penghambaan hanya kepada Allah; dari kesempitan dunia menuju kelapangannya; dan dari kezaliman agama-agama (selain Islam) menuju keadilan Islam…”
(Ath-Thabari, Târîkh al-Umam wa al-Mulûk, II/401).
Bila kita menyadari hari ini maka masih banyak agenda yang harus dikerjakan untuk membebaskan manusia dari belenggu kemiskinan penindasan dan penistaan. Sistem kapitalis telah menghisap kue ekonomi hanya dinikmati segelintir orang, para cukong dan para pengkhianat negara. Ketimpangan begitu jelas gimana satu persen orang bisa menguasai separuh daripada kekayaan di negeri ini. Kapitalisme telah mendudukkan manusia lemah sebagai sapi perahan yang dieksploitasi demi menambah pundi-pundi kekayaan para kapital.
Ulama yang Mukhlis harus tampil di depan memimpin perjuangan pembebasan, Bukan menjadi jongosnya para kapitalis dan para pengkhianat dengan menjual dalil-dalil agama supaya masyarakat bersabar atas segala eksploitasi yang menimpa mereka. tipe ulama semacam itu adalah ulama suu (jelek) karena telah menjual agamanya demi pundi-pundi rupiah dan dia akan bertanggung jawab di depan mahkamah Allah karena mendiamkan penindasan menjadi seolah absah karena dibumbui dalil-dalil agama.
Tiga Cara Pandang
Ada tiga cara pandang terhadap kemerdekaan ini. berdasarkan aspek kedalamanya:
1. Cara pandang dangkal (fikr al-suthiy). Mereka yang berpandangan dan berpikiran dangkal, beranggapan merdeka adalah kalau kebutuhan pribadinya tercukupi. Meskipun sebenarnya mereka hanya kebagian seuprit dan bagian besarnya diboyong bangsa asing.
2. Cara pandang Mendalam (al-fikr al-‘amiq). kemerdekaan versi mereka yang pemikirannya lebih mendalam. Menurut mereka, merdeka itu mutlak bebas secara fisik dari injakan bangsa penjajah.
3. Cara pandang yang cemerlang (al-fikr al-mustanir)). Orang-orang yang seperti ini baru percaya diri mereka merdeka ketika bebas dari penghambaan sesama makhluk. Berikutya juga merdeka dari paksaan pemikiran dan ideologi buatan manusia.
Dari cara pandang yang tersebut di atas tugas ulama adalah menjernihkan pemikiran umat. Supaya umat kembali bangkit kepada posisinya yang benar. Ulama harus memimpin umat untuk kembali meraih kedaulatannya yang hakiki yaitu terdistribusinya keadilan secara merata kepada seluruh warga negara. Hari ini jika kita analisis penjajahan tidak lagi berbentuk dominasi militer tetapi sudah mengarah kepada perang pemikiran dan budaya serta ekonomi. Perang pemikiran dan budaya harus dilawan kembali dengan amunisi pemikiran dan budaya yang shahih. Dipertarungan pemikiran dan budaya era globalisasi membutuhkan kekuatan pemikiran, keteguhan dan konsistensi pera pengembangnya. Di sinilah kita para ulama dituntut untuk konsisten mengangkat taraf berpikir umat supaya cerdas dan tidak lagi menjadi kambing yang akan menjadi mangsanya para serigala yang jahat. wallahu’alam.





















