Kagetnews | Jakarta – Dalam rangka memenuhi arahan pemerintah melalui Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang merujuk kepada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 61 Tahun 2024 tentang Neraca Komoditas, melalui siaran pers dengan NOMOR: 076.Pers/04/SJI/2025 pada tanggal 19 September 2025.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa sudah tercapai kesepakatan bersama antara Pertamina dengan SPBU Swasta (Shell, BP, & Vivo), di mana Pertamina akan memulai impor untuk pemasokan Base Fuel ke SPBU Swasta seperti Shell. Pemasokan sudah dikirimkan mulai hari ini (24/09/2025)
Kejadian tersebut karena adanya lonjakan permintaan BBM Swasta setelah muncul kesan hilangnya kepercayaan masyarakat saat ramai kasus BBM Pertamax yang dicurigai dicampur dengan BBM Pertalite (BBM Oplosan) pada awal Maret 2025 kemarin. Diduga kerugian yang dicapai pada tahun 2023 dari kasus tersebut adalah Rp 193,7 triliun, dan kemungkinan praktik tersebut sudah berlangsung selama lima tahun.
Respon Pertamina saat itu menyebutkan bahwa Pertamax bukan di Oplos melainkan di Blending (proses pencampuran dua atau lebih jenis bahan bakar minyak dengan karakteristik berbeda untuk menghasilkan BBM dengan spesifikasi tertentu), dan hal tersebut sudah lumrah di perusahaan penyedia BBM lainnya. Namun hal tersebut tetap tidak menghilangkan kekecewaan konsumen terhadap Pertamina sehingga banyak yang beralih ke penyedia BBM Swasta seperti Shell.
Ramainya peralihan penggunaan BBM dari Pertamina ke Swasta tersebut menyebabkan kuota impor BBM Swasta untuk tahun 2025 habis seketika,. Saat ingin meminta tambahan kuota ke pemerintahan, Menteri ESDM justru mengalihkan kuota tersebut hanya dapat dilalui oleh Pemerintah. Peningkatan permintaan BBM non-subsidi di SPBU swasta meningkat dari 11% di tahun 2024 menjadi sekitar 15% melihat data bulan Juli 2025, masih belum sampai akhir tahun menurut data Kementerian ESDM.
“Di 2025, dia mendapat 1 juta plus 10 persen. Berarti kan 1 juta 100 ribu. Artinya apa? Semuanya dapat dong. Kalau mau minta lebih, ini kan menyangkut dengan hajat hidup orang banyak. Ini cabang-cabang industri. Kalau mau lebih, silakan berkolaborasi dengan Pertamina,” ujar Bahlil di Kantornya, Rabu (17/9/2025).
Disepakati dari hasil pertemuan hari Jum’at (19/09) kemarin bahwa, SPBU swasta akan mendapat jatah impor BBM jenis base fuel sebanyak 571.748 kiloliter (KL) hingga akhir 2025. Namun impor tersebut akan dilakukan oleh Pertamina di mana sebelumnya impor dilakukan oleh SPBU Swasta sendiri. Tambahan impor ini diambil dari sisa kuota Pertamina Patra Niaga yang masih tersedia 34% atau sekitar 7,52 juta kiloliter.
Hal tersebut sudah ramai dibicarakan di salah satu postingan mediasosial, dan beberapa komentar netizen adalah seperti berikut:
“Apa pun “teori”nya. Sulit balikin kepercayaan publik ke pertamina. Sesimple itu ” @ademiraj
“Kalo udah ada campur tangan, pasti di OPLOS, seperti pertamax.” -@aldo_bergkamp
“Ibaratnya PERTAMINA jadi makelar BBM..beli lewat jalur PERTAMINA gak langsung importir nya..jadi harga bisa lebih mahal dr biasanya😢” -@kuncara1980
‘Fix udh gk percaya si kl udah berurusan sama pertamina..” @nilamchandradewi
Info resmi dari pihak Shell mengenai ketersediaan BBM jenis Super di Jakarta sebagai berikut:
Jakarta Barat
• Shell Meruya Utara
• Shell Peta Selatan
Jakarta Utara
• Shell Kelapa Gading
• Shell Semper-1
Jakarta Selatan
• Shell Fatmawati-1
Jakarta Timur
• Shell Bekasi Raya-1
Dan info dari salah satu pegawai di SPBU Shell mengungkapkan bahwa stok terakhir BBM Shell yang belum mengambil Base Fuel dari Pertamina akan di kirimkan pada tanggal 30 September 2025.
Pewarta: Alie A.M
Editor: Taufid





















