Artikel ini adalah hasil wawancara dan pengamatan Mustopa (Dosen STID Al Biruni) dengan Bapak Syamsu Sekdes Desa dan Bapak Oji Hujaji Seksi Kesejahteraan Desa saat di lokasi KKN STID Albiruni Cirebon pada 7 Februari 2023.
Sejarah Leuwikujang
Diceritakan oleh seorang tokoh masyarakat Desa Leuwikujang yaitu Alm. Bapak Lebe Zaenudin semasa hidupnya bahwa pada abad Ke-17 ada pendukuhan kecil di bawah gunung sebut saja Dukuh Badak yang merupakan cikal bakal terbentuknya Desa Leuwikujang yang saat itu merupakan wilayah bagian dari kekuasaan kerajaan islam Cirebon. Seiring dengan perkembangan penduduk dusun tersebut telah memenuhi syarat untuk dibentuk desa salah satu syarat diantaranya harus ada balai pertemuan atau tempat musyawarah dan masjid untuk sarana tempat ibadah. Saat itu yang menjadi kepala kampung atau yang dipertua adalah “Ki Buyut Sanggan”.
Ketika Ki Buyut Sanggan turun gunung hendak mencari tempat yang tepat untuk membangun balai desa dan masjid saat melintas di sungai Ciwaringin dimalam hari melihat secercah cahaya yang dikeluarkan dari sebilah keris pusaka kujang dan disekitar tempat itu Ki Buyut Sanggan membangun balai desa di sampingnya membangun masjid dan wilayah tersebut diberi nama “Desa Leuwikujang” yang artinya Leuwi adalah bagian sungai yang dalam/kedung dan kujang adalah sebauh pusaka di zaman Kerajaan Pajajaran yang mempunyai keistimewaan yang luar biasa.
Pada saat ini masih ada orang secara kebetulan melihat di malam hari cahaya/sinar dari pusaka kujang disekitar sungai Ciwaringin bahkan menemukannya namun tidak bertahan lama sebab pusaka tersebut bias datang dan pergi secara tiba-tiba. Bentuk pusaka kujang diabadikan dalam bentuk ornamen hiasan di pintu gerbang balai desa untuk mengenang sejarah, atas inisiatif/perakarsa kuwu Iim Ibrahim (Kuwu Ke-16 di Desa Leuwikujang).
Leuwikujang Menyimpan Banyak Potensi
1. Potensi Alam
Di Desa Leuwikujang ada bukit ”Syang Hyang Dora” yang menyajikan view bisa membuat decak kagum. Di sore hari bisa menyaksikan keindahan sunset, di pagi hari bisa menikmati indahnya sunrise. Cukup dengan kurang lebih 1 jam jalan kaki untuk sampai ke puncak bukit bagi para penikmat keindahan bisa ketagihan untuk datang kembali. Bagi yang malas naik ke puncak bukit Sanghyang Dora di bawah ada tempat yang indah dan asyik buat menghilangkan penat ada taman Family Gathering kalau malam sangat indah dihiasi kerlap kerlip lampu malam, sangat cocok untuk camping keluarga.
Di tempat ini didapati perkebunan durian kurang lebih 50 hektar. Produk Leuwikujang memiliki sensasi ciri khas yang berbeda dibanding dengan durian montong, sunking, perwira dan lain sebagainya Duren Leuwikujang memiliki cita rasa yang manis serta ada masamnya.
2. Potensi Masyarakat
Masyarakat Desa Leuwikujang termasuk masyarakat yang kreatif diantara masyarakat-masyarakat lain di Kecamatan Leuwimunding karena di sini didapati pengrajin boboko, pengrajin kaleng steinlis, pengrajin konveksi. Dari kreatifitas konveksi saja banyak macamnya ada pembuat hijab, kolor, daster, dan aksesoris lainnya.
3. Potensi Ekonomi
Desa Leuwikujang membangun tempat rest area di sebelah selatan Pom Bensin ada tanah titisara milik desa Leuwikujang, Bumdes, kios-kios desa, gallery, dan showroom. Dari kegiatan ini bisa merekrut warga untuk mendirikan UMKM.
Ada 6 pabrik pembuatan tahu khas Leuwikujang, bahkan tahu ini sudah tersebar ke daerah-daerah di Cirebon seperti Kartasura, Bedulan, dan Kaliwedi. Tahunya berwarna putih dan kuning, ampas tahunya juga sangat laku dibuat olahan makanan menjadi dage. Produk lain dari Luewikijang adalah opak ketan yang menjadi oleh-oleh untuk dibawa ke kota-kota besar seperti Jakarta. Selain tahu, opak, dan krupuk melarat ada juga hasil produk lainnya yaitu manisan koko pandan sari kelapa.
Ada 113 pengrajin opak dan bermacam-macam olahannya. Ada opak original, opak gurih panggang, opak manis, opak balado, opak panggang, dan ada juga opak sebesar genjring (alat musik). Dari 113 pengrajin opak sudah ada 6 pengrajin yang mendapat pembinaan dari pemerintah desa setempat.
Ada sedikit kendala di Leuwikujang, beberapa produk olahan makanan khas masih belum maksimal dalam mempacking produk, dan belum memiliki PIRT serta label halal. seperti opak-opak yang ada di pasar Rajagaluh itu produk Leuwikujang. Karena masyarakat di desa Leuwikujang masih memegang prinsip zona nyaman yang penting memproduksi terus dijual ada yang beli.
Selain itu, Di Desa Leuwikujang juga banyak didapati kegiatan pertanian, peternakan, perkebunan, dan perdagangan. Untuk peternakan ada 3 kelompok ternak sapi yang dikelola oleh Bumdes.
Pada sektor pertanian, masyarakat lokal biasa memanfaatkan 3 musim untuk mengelola pertaniannya, seperti Musim Rendeng disebut MT 1, Musim Katiga atau Kemarau disebut Musim Tanam 2, Dan Musim Kapat disebut Musim Tanam 3.
Kemudian, pada sektor pertanian Desa Luewikujang memiliki 4 saluran air yang digunakan untuk pertanian masyarakat sekitar. Bahkan di salah satu sumber air juga dimanfaatkan masyarakat untuk wisata kuliner dengan pemandangan sungai.
Beberapa resto pun dibangun untuk menunjang kebutuhan wisatawan saat berwisata, sehingga pengunjung bisa menikmati keindahan saluran air, setiap jengkal tanah yang ada di Leuwikujang.
Resto-resto yang berada di sekitaran sungai juga menyediakan oleh-oleh kepada pengunjung, dengan produk ekonomi kreatif karya warga lokal, seperti boboko.
Ciri khas kuliner yang tidak dimiliki tempat lain yaitu; produksi rumahan Goreng Beunteur sangat enak untuk dijadikan lauk makan. Saking sensasi nikmatnya Goreng Benteur Bapak Bupati Majalengka selalu ketagihan. Otlet yang sudah terkenal seperti warung makan Goreng Benteur Ma Otih.
Kegiatan Keagamaan
Dalam 1 minggu kegiatan keagamaan di Desa Leuwikujang tidak putus mulai dari malam minggu, malam senin dan malam-malam lainnya ada kegiatan majlisan. Kegiatan besarnya seperti kegiatan peringatan Maulid Nabi, sedekah Munah kalau ada terjadi bencana seperti tanah longsor di setiap perempatan jalan di Leuwikujang dikenal dengan sedekah Munah, sedekah ketika para petani selesai panen. Di Desa Leuwikujang masyarakatnya relatif antusias dalam bergotong royong, bahu membahu dan bersedekah.
Kegiatan Adat dan Budaya
Ada kirab budaya Guar Bumi setiap tahunnya biasanya dilaksanakan antara bulan Oktober sampai November. Kirab tersebut menampilkan semua kegiatan orang-orang terdahulu. Mungkin saat ini generasi milenial tidak mengalami bahkan tidak tahu. Seperti dari RW ini menampilkan alat penangkap ikan mulai dari posong, wuwug, joglog, regreg, eurad, jaring. Dari RT lain menampilkan kegiatan alat pertanian seperti; gapret, peso atam, replika kerbau-kerbauan sedang membajak sawah. Dari RT lainnya lagi menampilkan alat-alat penerangan seperti; petromak, lampu cempor, lampu gandok. Dari kegiatan Gaur Bumi ini bisa dilihat bahwa masyarakat Leuwikujang termasuk masyarakat pertanian.
Kegiatan kirab budaya Gaur Bumi ini merupakan kegiatan swadaya masyarakat yang terserap kalau dikalkulasikan menghabiskan Rp 500.000 kurang lebih sudah berikut membuat berkat.
Di setiap perdukuhan yang ada di Desa Leuwimunding memiliki cerita dan sejarah sendiri-sendiri seperti Kampung Rimbo punya sejarah.
Wallohu a’lam
Leuwikujang, 7 Februari 2023.
Penulis adalah salah seorang Dosen di STID Al Biruni Cirebon.






















