Kagetnews | Jakarta – Bertempat di gedung PWNU II DKI Jakarta, Gus Andi Wibowo, Anggota DPRD Tangerang Selatan sekaligus penggiat Gerakan Kampung Al-Qur’an menegaskan di dalam acara kegiatan orientasi 1 calon relawan kampung Al-Qur’an batch 15 bahwa di tengah gelombang revolusi digital dan kecerdasan buatan (AI) yang kian tak terbendung, pentingnya peran santri dan relawan untuk melek teknologi. Sabtu 9 November 2025.
Peringatan ini disampaikannya karena menyusul fakta bahwa pabrik-pabrik hari ini secara otomatis tidak lagi mempekerjakan manusia, atau “pabrik hantu”, telah menjadi keniscayaan di tahun 2025. Tantangan terbesarnya adalah mencegah gelombang perubahan ini menggerus nilai fundamental dalam pembelajaran Al-Qur’an, yaitu sanad keilmuan yang bersambung langsung dari guru ke murid. Kekhawatiran utama adalah jika masyarakat, khususnya generasi muda, hanya mengandalkan gadget untuk belajar mengaji, maka mata rantai ilmu yang otentik dan terjaga akan terputus.
Untuk menjawab tantangan zaman ini, Gerakan Kampung Al-Qur’an tidak tinggal diam. Gerakan ini berkomitmen membangun jaringan guru Al-Qur’an yang masif dan terintegrasi di seluruh Nusantara. Secara praktis, Gus Andi mendorong para relawan untuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah, mulai dari tingkat kecamatan hingga kabupaten, agar sosialisasi dan pengajaran dapat diterima dan dimudahkan.
Melalui sinergi ini diharapkan setiap daerah, mulai dari 29 Kecamatan yang berada di Lebak hingga seluruh Pulau Jawa, akan memiliki “guru hidup” yang menjadi sanad nyata, memastikan cahaya Al-Qur’an terus bersinar dengan otentisitasnya di era disrupsi teknologi. Kegiatan ini dihadiri oleh 70 orang Peserta dan 25 orang panitia, kegiatan orientasi ini diharapkan untuk memberikan semangat kepada calon relawan batch 15 untuk siap menghadapi setiap tantangan yang ada dilapangan.
Akhir kata, Ketua Yayasan Kampung Qur’an Iqbal berpesan kepada seluruh hadirin yang datang untuk memanfaatkan bonus demografi bangsa Indonesia dan beradaptasi dengan kehadiran teknologi di era disrupsi saat ini.
“Santri harus memiliki peran dalam menghadapi bonus demografi untuk Indonesia emas yaitu peran hidup yang tidak terkalahkan dengan teknologi AI, .” pungkas Iqbal.
Kontributor: Inaf
Editor: Taufid





















