Oleh: Mohamad Nasirin
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ (Al Hadid Ayat 20)
Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya.
Mari kita meluangkan waktu untuk merenung dalam hening, sembari memahami hidup yang terus berlalu, berdasarkan firman Allah SWT. Kehidupan ini sejatinya terdiri dari dua fase, begitu pula kematian. Fase pertama adalah kehidupan di dunia, di mana kita saat ini berada, menjalani berbagai suka dan duka. Ada yang terlena oleh gemerlap dunia, dan ada pula yang tetap terjaga. Bagi yang terlena, kelak hanya ada penyesalan. Namun bagi mereka yang terjaga, mereka akan lebih peka terhadap realitas yang ada dan mempersiapkan diri guna menghadapi kehidupan berikutnya, yaitu di akhirat.
Ayat di dalam Al-Qur’an telah menjelaskan dengan sangat gamblang panduan Ilahi mengenai bagaimana seharusnya kita memandang kehidupan dunia ini. Firman Allah dimulai dengan kata “I’lamuu” yang merupakan perintah tegas agar manusia sungguh-sungguh memahami posisi kehidupan dunia menurut Islam.
Perintah ini tidak hanya menyerukan kita untuk sekadar mengetahui, tetapi juga untuk mengamati dengan cermat kenyataan hidup dan mendalami ilmu pengetahuan yang bertebaran di muka bumi. Allah telah memastikan setiap makhluk mendapatkan rezeki-Nya tanpa kekurangan sedikit pun. Dan tugas manusia yang utama adalah mengabdi kepada-Nya sebagai Zat yang telah menciptakan kita, dengan petunjuk yang nyata bahwa:
1. Kehidupan dunia ini hanyalah Permainan
Seluruh kejadian dan peristiwa dalam hidup tak ubahnya sebuah drama, di mana setiap individu memainkan peran masing-masing. Namun, sebagaimana setiap permainan pasti akan mencapai akhirnya, begitu pula kehidupan ini. Pada akhirnya, setiap pemain akan kembali kepada kehidupan sejati sebagai seorang hamba dari Sang Pencipta. Seorang hamba dituntut untuk menyadari bahwa peran yang dijalankan di dunia ini adalah alat untuk menunjukkan pengabdian kepada Allah.
Namun, ada kalanya manusia terbawa arus permainan tersebut sehingga kehilangan fokus dan kesadaran akan akhirnya. Permainan dunia kerap menyita energi hingga tak jarang membuat manusia lupa tujuan utama penciptaannya. Beberapa bahkan terjebak dalam emosi negatif, sampai-sampai menentang takdir dan merasa benci, tidak menerima peran yang ditetapkan oleh Allah untuk dirinya.
2. Kehidupan dunia ini hanyalah Kelalaian
Jika tidak disadari bahwa segala sesuatu di dunia hanyalah permainan dan senda gurau, manusia akan mudah terlena oleh perannya masing-masing. Sebagai contoh, seseorang yang kaya mungkin merasa bahwa kekayaannya adalah hasil dari kecerdasan atau kemampuannya sendiri, lantas dia menjadi sombong dan terlalu percaya diri. Hal yang sama berlaku bagi mereka yang memiliki kuasa; sering kali hawa nafsu mengambil alih tindakan mereka sehingga mereka lupa bahwa kekuasaan sejatinya dimaksudkan untuk memimpin umat ke jalan Allah. Dalam kelalaian tersebut, manusia bisa saja meyakini bahwa keadaan yang dialami saat ini bersifat abadi kekayaan dirasa tidak akan hilang sehingga ia bertindak semaunya, sementara seorang miskin mungkin merasa kemiskinannya adalah bentuk ketidakadilan dari Tuhan, hingga ia berani menyalahkan-Nya. Padahal, setiap peran di dunia ini bersifat sementara dan pada akhirnya semua akan dimintai pertanggungjawaban. Siapa pun yang gagal menyadari kenyataan ini berisiko terjerumus dalam kelalaian dan kelengahan.
3. Kehidupan dunia ini hanyalah Perhiasan
Perhiasan dunia selalu mengiringi perjalanan hidup manusia. Bahkan, sering kali perhiasan dianggap sebagai pelengkap yang menjadikan seseorang terasa lebih sempurna dan layak dipuji. Bukankah ketika seseorang berhias ia berharap mendulang kekaguman dari orang lain? Dan bukankah saat seseorang melengkapi dirinya dengan segala macam perhiasan ia merasa telah mencapai kematangan hidup? Namun perlu disadari, jangan biarkan perhiasan duniawi merasuk terlalu dalam ke dalam hati seseorang karena hal itu dapat merusak peran sejati manusia sebagai hamba Allah. Perhiasan dunia bukanlah sesuatu yang hakiki; ia hanya sementara dan fungsinya pun lebih kepada menarik pandangan manusia lainnya. Oleh karena itu, bijaklah menggunakan perhiasan sebagai sarana pelengkap hidup tanpa membiarkannya menguasai jiwa. Pada akhirnya, hidup di dunia harus dilihat sebagaimana mestinya: sebuah ujian dan ladang pengabdian kepada Allah SWT. Semua yang kita alami baik itu kebahagiaan maupun penderitaan merupakan bagian dari perjalanan menuju kehidupan sejati di akhirat. Maka sadarilah hakikat hidup ini sebelum semuanya terlambat untuk diperbaiki. Dan hakekat kehidupan ini adalah seperti perhiasan yang tidak akan dibawa mati bahkan semua akan ditinggalkan dan suka tidak suka semuanya diberikan kepada orang lain maka apakah kehidupan dunia ini akan mebawa kepada kebaikan ataukah sebaliknya ..?
4. saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya
harta dan anak keturunan. Manusia seringkali menganggap bahwa kehidupan di dunia ini adalah panggung untuk memamerkan diri, menunjukkan siapa mereka sebenarnya. Akibatnya, hati mereka dikuasai oleh sifat-sifat buruk seperti kesombongan dan riya. Mereka sibuk memamerkan kekayaan, ketinggian ilmu, dan pencapaian-pencapaian lain, seolaholah semua itu murni hasil dari usaha mereka sendiri.
Namun, tidakkah kita mengingat bagaimana Allah telah menceritakan tentang Qarun? Dan bukankah dalam Al-Qur’an banyak kisah tentang Fir’aun yang menjadi pelajaran bagi kita? Kekayaan yang kamu banggakan tidak akan membawamu kepada kebahagiaan sejati. Bahkan ilmumu, yang kamu pamerkan dengan rasa sombong, hanya akan menjerumuskanmu ke dalam perangkap riya.
Jadi, bagaimana langkah kita selanjutnya?
Tidak ada manusia yang lebih beruntung selain mereka yang mampu memahami dirinya sendiri, alasan keberadaannya, dan tujuan hidupnya.
Sangat jelas disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa Allah telah menegaskan manusia diciptakan semata-mata untuk mengabdi kepada-Nya. Hal ini merupakan penegasan mutlak yang dapat dipahami oleh siapa saja. Firman Alloh QS, 51 ayat 56.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”.
Jelas bahwa pengabdian kepada Tuhan adalah tujuan utama dari keberadaan manusia. Secara naluriah, manusia memang memiliki kecenderungan untuk menjadi pengabdi dan mencari sosok atau sesuatu yang layak untuk mereka abdikan. Oleh karena itu, muncul berbagai bentuk pengabdian di dunia ini. Ada yang mengabdi secara mutlak kepada sesama manusia, ada yang memuja benda, ada pula yang tunduk pada hawa nafsu, bahkan ada yang mengabdikan diri kepada roh-roh leluhur yang telah tiada. Akibatnya, bermunculanlah beragam keyakinan di muka bumi ini, masing-masing dengan atribut dan cara pengabdiannya sendiri.
Mari kita coba membahas ayat di atas dari berbagai sudut pandang
Pertama, kata “ma” pada ayat tersebut dapat dipahami sebagai “ma nafi,” yang berarti meniadakan segala anggapan dan perspektif manusia tentang dirinya sendiri.
Dengan kata lain, Allah tidak akan menciptakan jin dan manusia jika keberadaan mereka tidak memiliki satu tujuan tertentu. Maka dari itu, frasa “illa liya’buduuni” menjadi penegasan atau ketetapan dari tujuan penciptaan manusia itu sendiri.
Namun, sebelum melangkah lebih jauh dalam pembahasan ini, ada baiknya kita mencoba mengenal lebih dalam tentang siapa jin itu, siapa manusia itu, serta memahami persamaan dan perbedaan antara keduanya.
خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ صَلۡصَالٍ كَالۡفَخَّارِۙ (١٤) وَخَلَقَ الۡجَآنَّ مِنۡ مَّارِجٍ مِّنۡ نَّارٍۚ (١٥)
Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, dan Dia menciptakan jin dari nyala api tanpa asap. (ar-Rahman/55: 14-15).
Perbedaan bahan dasar penciptaan jin dan manusia secara alami memengaruhi karakter dasar keduanya. Tanah melambangkan sifat ketaatan, sedangkan api mencerminkan sifat keangkuhan. Namun, ketika tanah dibakar oleh api, ia menjadi keras dan membeku. itulah yang sering diibaratkan sebagai kekerasan hati.
Manusia yang seperti ini cenderung menolak kebenaran. Di sisi lain, tanah yang tidak disirami air tidak akan menghasilkan apa-apa. Hal ini menggambarkan bahwa agar manusia dapat berkembang dan berubah, mereka membutuhkan ilmu pengetahuan untuk membentuk diri menjadi lebih baik. Tanpa ilmu, manusia layaknya tanah yang tidak pernah diolah tidak bermanfaat bagi dirinya, apalagi bagi orang lain. Firman Alloh dalam QS 7 ayat 179.
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ (١٧٩)
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
Kalimat “Qod” mengandung makna penegasan atau kesungguhan. Apabila ditambahkan dengan huruf “la”, maka kalimat tersebut menjadi sangat penting, membawa sebuah informasi yang mendalam untuk manusia dan jin. Kalimat ini mengingatkan bahwa penciptaan manusia dan jin bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, melainkan merupakan tindakan yang disengaja oleh Allah dengan tujuan yang jelas. Oleh karena itu, Allah memberikan mereka alat-alat indra, baik fisik maupun non-fisik, yang seharusnya digunakan sesuai dengan fungsinya. Namun, penyalahgunaan alat-alat indra tersebut justru menjadi salah satu penyebab banyaknya manusia dan jin yang akhirnya menjadi penghuni neraka jahanam.
Qolbu adalah wadah atau tempat bertemunya firman Allah, tempat bersemayamnya hidayah, serta tempat memahami tauhid. Namun, jika qolbu dipenuhi oleh noda yang diakibatkan oleh perbuatan manusia yang melanggar perintah Allah, maka semakin sulit bagi seseorang untuk memahami hal-hal tersebut, kecuali atas kehendak Allah. Noda-noda ini merupakan akibat dari perilaku manusia yang sering kali menyimpang dari syariat Allah, bahkan terkadang menciptakan tandingan bagi-Nya. Semakin banyak noda dalam qolbu, semakin gelaplah hati seseorang, sehingga tertutup dari cahaya untuk memahami perintah Allah.
Sebagian pendapat juga memandang bahwa qolbu adalah bagian dari raga manusia yang menjadi tempat bersemayamnya cinta (hubb), baik cinta kepada Allah maupun cinta kepada selain-Nya. Dalam jiwa manusia, terdapat fuad dan syudur yang berfungsi sebagai filter, pemberat, serta penyeimbang. Fuad berada di dalam qolbu dan bertugas untuk menimbang untung dan rugi, sedangkan syudur adalah bagian dari qolbu yang berkaitan dengan tempat kekhawatiran manusia. Gabungan semua elemen ini membentuk akal manusia. Dengan dasar kekhawatiran dan perhitungan yang dilakukan oleh akal inilah manusia akan mempersiapkan diri untuk menjadi lebih baik.
Ketika akal manusia dikendalikan oleh hati yang bersih, akan muncul pola hidup yang berpikiran maju dan terarah. Akal ini akan senantiasa mempertimbangkan apakah tindakan yang dilakukan memberikan manfaat untuk kehidupan di masa depan dan akhirat, ataukah justru sebaliknya. Namun, banyak manusia yang mengotori jalan pendengaran mereka dengan kesyirikan atau kecenderungan mengikuti hawa nafsu, seperti gibah, fitnah, menggunjing, serta menerima informasi tanpa kejelasan dan tanpa usaha untuk melakukan tabayun terhadap berita yang diterima. Kesalahan dalam mendengar informasi sering kali berujung pada tindakan dan cara pandang yang keliru. Ketika alat-alat tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya, perilaku manusia cenderung menyerupai binatang. Bukanlah nilai ketuhanan yang muncul, melainkan nilai negatif atau bahkan kesetanan yang ditampilkan.
Begitu banyak orang yang menjadi korban dalam sebuah keputusan, meski mereka tidak bersalah dalam suatu kasus, hanya karena salah informasi. Bahkan binatang tidak pernah memakan anaknya sendiri. Namun, manusia yang telah tertutup mata hatinya dapat melakukan hal di luar akal sehat, hingga menganggap aspalpun pantas untuk ditelan.
Modal yang telah diberikan Allah kepada manusia berupa indra menjadi aset berharga yang memungkinkan manusia untuk mengenali, berpikir, dan mengembangkan potensi dirinya. Dengan memaksimalkan kemampuan tersebut, manusia mampu mengelola bumi dengan sebaik-baiknya.
Komponen jasad seperti qalb (hati), ‘ayn (mata), dan bashar (penglihatan) berperan sebagai sarana bagi perkembangan manusia. Jika digunakan sesuai dengan fitrahnya, manusia dapat menjadi makhluk yang memiliki potensi di atas rata-rata. Potensi ini menciptakan ruang gerak luas untuk perkembangan diri serta memberikan kebebasan dalam berbagai aspek, yaitu:
1. Kebebasan berpikir (free of thinking)
2. Kebebasan memilih tindakan (free of choice)
3. Kebebasan menentukan keputusan (free of will)
Namun, setiap pilihan tersebut tetap memiliki hubungan yang kuat dengan tanggung jawab yang harus diemban oleh manusia. Jika kebebasan dan potensi yang dimiliki diarahkan untuk mengikuti hawa nafsu, manusia akan terjerumus dalam kesengsaraan. Sebaliknya, jika kebebasan dan potensi itu digunakan untuk mengabdi kepada Allah, maka manusia akan menjadi makhluk yang beruntung.
QS. Al-A’raf Ayat 172.
وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَاۛ اَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ (١٧٢)
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”
QS Al-A’raf ayat 172 menggambarkan momen ketika Allah mengeluarkan seluruh keturunan Adam dari sulbi mereka dan mengambil kesaksian bahwa hanya Dia-lah Tuhan mereka. Tujuan dari pengambilan kesaksian ini adalah agar pada Hari Kiamat nanti, manusia tidak dapat beralasan bahwa mereka lalai atau tidak mengetahui keesaan Allah. Dengan demikian, Allah sudah menetapkan janji tauhid sejak zaman azali, yang secara fitrah telah diakui oleh setiap manusia. Namun demikian, banyak manusia yang tetap lalai terhadap janji tersebut. Di Hari Pengadilan kelak, janji tauhid ini akan diingatkan kembali. Pada hari itu, tidak ada saudara atau teman yang dapat memberi pertolongan. Setiap manusia akan berdiri di hadapan Allah untuk dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatannya di dunia.
(Bersambung)
Apresiasi Spesial
Dukungan Anda membantu kami menyajikan berita berkualitas.
Scan QRIS Berita Super
Silakan selesaikan pembayaran melalui aplikasi e-wallet Anda.






















