leh: Hasbi Indra
Kagetnews | Opini – Teringat pesan Nabi Muhammad SAW beliau diutus untuk menegakkan akhlak manusia. Teringat ada cita pendiri bangsa perlunya manusia Indonesia berketuhanan yang Maha Esa, Allah yang mengutus Rasul untuk hal itu termasuk dalam berdemokrasi, di sila keempat Pancasila.
Bisa jadi partai awalnya bagian dari penegak itu tak lagi berada di misi mulia itu. Partai bisa jadi hanya berhala sekalipun untuk manusia beragama ketika tak lagi memperdulikan wajah bangsa dan nasib rakyat.
Misalnya wajah bangsa yang buruk rupa sebagai bangsa pengutang yang angkanya 8000 triliun lebih. Wajah bangsa yang korup ada yang angkanya 271 triliun dan bahkan ada angka di 349 triliun, di bangsa yang jumlah orang miskin puluhan juta hitungan rezim dan hitungan bank dunia di angka 100 juta lebih.
Kondisi yang diciptakan oleh rezim yang disebut banyak ahli misalnya Romo Frans Magnis Suseno yang bersuara nyaring di MK bahwa etika dan moral tak dipandang penting lagi dalam berpolitik dan berdemokrasi.
Kondisi yang ada tak menjadi beban elit partai apakah itu di majelis surahnya atau lainnya dan yang sedang berada di lembaga perwakilan rakyat. Kondisi yang sangat membebani puluhan juta rakyat.
Kondisi yang menggambarkan bangsa tengah menikmati ketakadilan yang terang benderang tengah terjadi. Tak adakah di manusia partai hanya sekedar obrolan tentang kondisi bangsa kini?
Kondisi bangsa yang ada baiknya menjadi pertimbangan partai dalam menentukan langkahnya politiknya yang tentu atas dasar etika dan moral.
Partai apalagi bercorak agama bila berada di barisan yang membuat kondisi yang ada semakin rusak berat dan ingin menikmatinya maka dapat di kelompokkan sedang memberhalakan partai.
Partai telah dihidupi oleh rakyat puluhan tahun di mana elitnya juga hidup sejahtera tak boleh tergoda hanya sekedar iming tahta yang tergambar bisa mengumpulkan harta dan ada harta yang mungkin diterima dibawah meja, seolah Allah tak menyaksikannya.
Ini sedang menggambarkan prilaku bagaikan menjual ayat dengan harga murah dan telah lari dari menegakkan misi amal makruf nahi mungkar. Kerugian besar yang tak ternilai tak bisa lagi bicara tentang keadilan dan tentang etika dan moral.
Lalu ikut bersiasat seolah rakyat dan umat bodoh yang menjadi bagian memberikan pilihan manusia dengan manusia di kotak kosong. Jatuh citarasa yang sama dengan mereka yang tak peduli dengan soal etika dan moral seperti manusia yang akan ada di kotak kosong itu, didukung oleh partai sebagai bentuk penipuan atau pembohongan dalam berdemokrasi yang di negara liberal saja tak terjadi.
Tak ada memang di ayat kitab suci melarang secara jelas akan hal itu tapi akal sehat dan hati nurani jadi pertimbangan.
Elit partai orang-orang hebat yang bacaannya tentang etika dan moral sudah tingkat sempurna yang sumbernya ayat kitab suci dan juga hasil bacaan kitab klasik dan kitab kontemporer akan sampai pada pemahaman bahwa tegaknya keadilan tak mungkin melalui siasat yang tak beretika dan tak bermoral seperti itu.
Pemimpin yang dihasilkan melalui memilih manusia dan manusia di kotak kosong melanggar tata nilai demokrasi yang sedang memberi kenikmatan hidup kalangan elit partai tapi melanggar spirit kitab suci dan spirit Pancasila.
Rakyat termasuk umat puluhan tahun menderita yang belum menikmati arti kemerdekaan jumlahnya paling tidak puluhan juta itu tak seberapa bila partai tak menikmati kursi tahta dan seharusnya tak patean bila tak ada disitu.
Hadirnya partai yang berbasis massa Islam kini memasuki era krusial untuk menunjukkan jatidiri awal berdirinya untuk umat dan untuk rakyat untuk keadilan dan kemakmuran yang tetap di etika dan moral yang dipegang terkadang malah oleh manusia sekuler atas dasar akal dan hati nurani dan kemanusiaan.
Cukup menjadi manusia saja tak layak membiarkan dan abai dengan kondisi yang ada apalagi berada di barisan itu demi semata untuk suatu partai yang berhimpitan dengan syahwat manusia, potensial partai bisa menjadi berhalanya.
Bogor Agustus 2024.
Penulis adalah seorang akademisi di UIKA Bogor.





















