Oleh: KH. Heri Kuswanto, M. Si.
Kagetnews | Religi – Dalam kisah masa kecil Abul Qasim Al Junaid Ibnu Muhammad Al Khazzazal Nihawandi oleh Fariduddin Aththar:
Suatu hari, Junaid pulang dari ngaji. Ia menemukan ayahnya tengah menangis tersedu di atas sajadahnya.
“Ayah, apa yang terjadi?” tanya Junaid khawatir.
“Ayah ingin memberikan sedekah kepada pamanmu, Sarri,” tutur sang ayah” Namun ia tidak mau menerimanya. Ayah menangis karena ayah telah mencurahkan seluruh hidup ayah untuk dapat menyisihkan uang lima dirham ini, tapi ternyata uang ini tidak memenuhi syarat untuk dapat diterima oleh seorang Sahabat Allah.
Junaid yang masih berusia sepuluh tahun itu diam sejenak untuk berpikir, mencari solusi bagi ayahnya yang sedang sedih.
“Ayah…,” tak lama kemudian ia angkat bicara. “Bagaimana kalau uang itu aku yang memberikan? Siapa tau Paman Sarri akan luluh dan mau menerimanya,” rayu Junaid.
Sang ayah yang melihat umur Junaid belum cukup dewasa pun hanya menatap wajahnya sebentar, lalu berkata, “Anakku, kau masih kecil. Ayah saja ditolak, bagaimana denganmu yang belum mengerti asam garam kehidupan.” Jawabnya.
“Ayah, izinkanlah saya mencobanya.” Ucap Junaid tak kehilangan akal.
Akhirnya, sang ayah pun luluh dan memberikan uang itu kepadanya. Junaid pun pergi. Dan, sesampainya di rumah sang paman, Junaid segera mengetuk pintu.
“Siapa itu?” Terdengar suara dari dalam rumah.
“Junaid, Paman.” Jawabnya. “Mohon buka pintu sebentar, dan terimalah tawaran sedekah ini.”
“Aku tidak akan menerimanya,” pekik Sarri.
“Aku mohon terimalah ini, Demi Tuhan yang telah begitu dermawan padamu dan telah begitu adil pada ayahku,” jawab Junaid.
“Junaid, apa maksudmu Allah begitu dermawan padaku dan begitu adil pada ayahmu?” tanya Sarri.
Junaid menjawab, “Allah begitu dermawan padamu karena Dia telah menganugerahimu kemiskinan. Sedangkan pada ayahku, Allah telah begitu adil dengan menyibukkannya dengan urusan-urusan dunia. Engkau memiliki kebebasan untuk menerima atau menolak sedekah. Sedangkan ayahku, suka atau tidak, harus menyampaikan sedekah yang dititipkan Allah padanya kepada orang-orang yang berhak seperti paman.”
Jawaban Junaid ini membuat hati Sarri terenyuh. “Anakku, sebelum aku menerima sedekah ini, aku telah lebih dulu menerimamu,” ujar Sarri.
Sarri pun kemudian membuka pintu dan menerima sedekah itu. Ia menempatkan Junaid di tempat yang istimewa di dalam hatinya.
Begitulah saat Allah menitipkan nasihat-Nya melalui siapa dan apa pun yang ia kehendaki, termasuk pada mulut seorang anak kecil–yang kerap dinilai orang-orang dewasa tidak memiliki makna.
Begitu pun dengan kemiskinan dan kekayaan. Kadang, miskin dan kaya kerap dinilai sebagai ukuran kemuliaan seseorang. Namun di sisi orang-orang bertakwa, kemiskinan dan kekayaan hanya lah titipan. Keduanya merupakan bentuk kasih sayang Tuhan yang masing-masingnya memiliki hak sekaligus kewajiban.
Si miskin memiliki hak untuk menolak sedekah, sedangkan si kaya punya kewajiban untuk menyampaikan sebagian hartanya untuk orang-orang yang membutuhkan.
Namun, bagaimana jadinya, bila orang-orang yang disebutkan Alquran sebagai syarat penerima sedekah (fakir, miskin, dsb) memilih untuk menolak pemberian sedekah? Bukankah si kaya akan kehilangan kesempatan untuk membantu? Pun sebaliknya.
____
Heri Lintang Songo
Dosen Institut Ilmu Al Quran, IIQ Annur Yogyakarta, Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam STAIYO Yogyakarta dan A’wan Syuriyah PWNU DIY.





















