Oleh: KH. Heri Kuswanto, M. Si.
Kagetnews | Religi – Di dalam hadis riwayat Imam Bukhari dijelaskan bahwasanya salah satu tanda datangnya hari kiamat adalah secara kuantitas penduduk bumi dipenuhi oleh wanita dengan perbandingan Seorang Laki-laki menanggung kewajiban 50 wanita. Berikutnya hadisnya:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ: أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَكْثُرَ الْجَهْلُ، وَيَكْثُرَ الزِّنَا، وَيَكْثُرَ شُرْبُ الْخَمْرِ، وَيَقِلَّ الرِّجَالُ وَيَكْثُرَ النِّسَاءُ، حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً الْقَيِّمُ الْوَاحِدُ
“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat: Ilmu (agama) diangkat dan tinggallah kejahilan (kebodohan), khamr diminum, zina marak di mana-mana, kaum laki-laki menjadi sedikit dan tinggallah kaum wanita, sampai seorang laki-laki menafkahi dan menanggung 50 orang wanita.”
Para ulama dalam Kitab At Tazkirah, Syarah Nawawi li Muslim, dan Fath al Bari menafsirkan hadits tersebut sebagai dampak dari banyaknya fitnah dan peperangan yang terjadi pada akhir zaman. Saat itu, jumlah kaum pria yang terbunuh lebih banyak dibandingkan dengan kaum wanita.
“Banyak fitnah sehingga kaum lelaki banyak terbunuh dalam peperangan karena bala tentara dalam medan perang ialah kaum lelaki dan bukan perempuan,” demikian penjelasan kitab tersebut yang diterjemahkan Atho’illah Umar dalam buku Tanda-tanda Kiamat.
Pendapat lainnya menyebutkan, ketimpangan jumlah tersebut disebabkan dari banyaknya kemenangan yang diraih Islam dalam menundukkan negara-negara kafir di masa mendatang. Hal itu membuat muslim memiliki tawanan dari kaum wanita dan tiap orang memiliki lebih dari satu istri.
Mahir Ahmad Ash-Syufiy dalam Tanda Kiamat-Kecil Menengah, pendapat lainnya juga ada yang menyebut hal itu sebagai takdir yang sudah ditentukan Allah SWT pada akhir zaman yakni, mengurangi jumlah anak laki-laki dan memperbanyak jumlah anak perempuan
___
P. Heri Pesantren Lintang Songo Yogya
0857 1645 8522. Dosen Institut Ilmu Al Quran (IIQ) Annur Yogyakarta dan Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIYO) Yogyakarta.





















