Studi Kampus di SMAN 1 Sindang Aspirasi atau Tradisi?

Gambar kolase, Humas SMAN 1 Sindang Sodikin (kiri) dan Bangunan Sekolah SMAN 1 Sindang (kanan). (Istimewa)

Bagikan

Kagetnews | Indramayu – Terulang kembali fenomena studi kampus di lingkungan SMAN 1 Sindang Indramayu (Sasi), yakni suatu program untuk meningkatkan minat peserta didik melanjutkan kuliah di perguruan tinggi ternama serta mempelajari lika-liku kehidupan kampus yang berada di PTN/PTS tertuju.

Dengan embel-embel serapan lulusan banyak diterima di perguruan tinggi, maka studi kampus dijadikan program tersendiri bagi pihak SMAN 1 Sindang.

Namun apakah program tersebut sudah ideal untuk dilaksanakan dan sudah benar prosesnya serta tidak ada unsur yang menyalahi regulasi? ataukah ada pihak lain yang mencari keuntungan dari program tersebut?

Mari publik seksama melihat fakta maupun prosesnya, apakah benar studi kampus di SMAN 1 Sindang itu benar-benar sudah ideal dan laik sehingga biaya yang dikeluarkan oleh wali murid yang menitipkan anaknya pada sekolah tersebut sudah sesuai dengan apa yang diharapkan.

Aspirasi atau Tradisi?

Menurut penuturan Humas SMAN 1 Sindang Sodikin dan Ketua MPK Sasi saat ditemui awak media pada 6 Desember 2023, Studi Kampus tahun 2023 dengan tujuan Kampus UGM Yogyakarta dan Udayana Bali yang akan dilaksanakan pada bulan Januari nanti merupakan hasil dari aspirasi para siswa kelas 11 dan telah dikonsultasikan kepada Wakasek Kesiswaan dan Komite Sekolah.

Akan tetapi pernyataan aspirasi tersebut menuai kritikan dari Muhammad Syamsudin selaku Pengamat dan Pemerhati Pendidikan Indramayu. Menurut Dia jika kunjungan tersebut bersumber dari aspirasi siswa, harusnya kampus yang dituju oleh SMAN 1 Sindang bisa lebih beragam atau berbeda dari tahun sebelumnya yakni pada tahun 2022 yang lalu.

Diketahui, studi kampus yang dilakukan oleh sekolah tersebut agenda dan tujuannya masih sama dari tahun sebelumnya. Bahkan jasa travel dan anggarannya pun sama.

“Ini seperti ada setingan, ini bukan aspirasi tapi tradisi yang dilestarikan sekolah untuk mencari keuntungan,” tegas Syamsudin.

Pria yang akrab disapa Udin ini melanjutkan, jika esensinya pengenalan kampus kenapa harus ke Udayana Bali karena secara peringkat dunia menurut versi Webometrics hanya berada di posisi 3209. Masih banyak kampus-kampus lain yang berperingkat lebih baik dari itu seperti Universitas Indonesia dengan peringkat 561 dan Institut Teknologi Bandung dengan peringkat 786, di mana lokasinya lebih dekat dan jika mengeluarkan biaya tentunya lebih murah.

“Saya rasa ini modus sekolah dengan pihak travel agar bisa mendapatkan keuntungan,” ungkapnya.

Pihak Ketiga Berbisnis di Sekolah

Potret Siswa Kelas XI SMAN 1 Sindang saat melakukan pembayaran biaya Studi Kampus kepada pihak travel, di Auditorium Sekolah pada 6 Desember 2023. (Istimewa)

Dalam PP 17 Tahun 2010 pada pasal 181 Tentang Pengelolaan Penyelenggaraan Pendidikan telah dijelaskan bahwasanya terdapat larangan terhadap lembaga pendidikan yang melakukan pungutan secara langsung maupun tidak langsung yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Lantas apakah dibenarkan pihak Travel melakukan transaksi atau berbisnis dengan siswa SMAN 1 Sindang? Apalagi transaksi tersebut masih berada di lingkungan sekolahan (Aula Sekolah) yang mana di dalam regulasi maupun UU, sekolah merupakan lembaga pendidikan yang berfungsi dan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Sementara itu fakta yang terjadi, menurut penuturan Ketua MPK SMA Satu Sindang dirinya diperintahkan oleh pembina untuk mencari travel wisata yang bisa mengantarkan menuju lokasi yang ada dalam agenda studi kampus.

“Kami berangkat sendiri menuju kantor travel dan kami melakukan tawar menawar harga yang alot dengan pihak travel,” ungkap Ketua MPK.

Menurut Muhammad Syamsudin, kesalahan yang fatal ketika lembaga pendidikan memfasilitasi transaksi antara siswa dengan pihak travel. “Di sini terlihat pihak sekolah terlibat dan mendukung kegiatan Studi Kampus yang bekerjasama dengan travel,” papar Udin.

“Sekolah bukan tempat untuk transaksi bisnis maupun mencari keuntungan,” imbuh Udin dengan tegas.

Udin melanjutkan, menurut regulasi yang ada, tidak ada satupun butir pasal maupun poin yang membenarkan bahwasanya Pihak Travel melakukan transaksi langsung dengan siswa di lingkungan sekolah, bahwa perbuatan tersebut bisa jadi terlarang seperti pada PP No 17 tahun 2010.

Resiko di Perjalanan

Pada studi kampus sebelumnya, yang dilaksanakan oleh siswa SMAN Sasi tidak selamanya berjalan mulus. Pasalnya pada tahun 2022 yang lalu sempat terjadi insiden salah seorang siswa yang mengikuti perjalanan menuju Bali mengalami sakit dan dilarikan ke rumah sakit terdekat.

“Saat itu dengan sigap, pihak Travel (Atthaya) melarikan kakak tingkat kami ke rumah sakit. Karena tindakan tersebutlah kami mempercayakan Travel Atthaya untuk dijadikan biro perjalanan kami,” beber Ketua MPK kepada awak media.

Sementara itu, insiden tersebut menjadi perhatian khusus bagi Muhammad Syamsudin. Menurut Dia hal tersebut merupakan tindakan yang ceroboh dari pihak penyelenggara maupun pihak lembaga pendidikan.

“Bagaimana itu anak tidak sakit karena selama di perjalanan hanya satu kali istirahat di hotel dan sisanya hanya tidur di mobil bus,” terangnya.

Udin mendapatkan informasi, ada beberapa siswa SMAN Sasi yang mengeluhkan perjalanan Studi Kampus pada 2022 yang lalu. “Sedih saya, sudahlah mengeluarkan uang senilai Rp. 2. 750. 000, namun para peserta acara hanya satu kali beristirahat di hotel! Bahkan ketika ingin mandipun para peserta harus mengantri cukup lama di rest area. Sungguh miris saya dengarnya,” imbuhnya.

Biaya yang Dikeluarkan

Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Sodikin Humas SMAN Sasi, bahwasanya ada sekitar 427 siswa yang akan mengikuti Studi Kampus di Yogyakarta dan Bali.

Dengan rincian:
•Bus Pariwisata PP Rp. 1. 450.000
•Makan 14 kali Rp. 350.000
•Kaos Kegiatan Rp. 75.000
•Hotel Bintang 4 2 Malam Rp. 400.000
•8 Lokasi Objek Wisata Rp. 200.000
•Penyebrangan Jawa Bali PP Rp. 50.000
•P3K Obat-obatan Rp. 5000
•Dokumentasi & Cinderamata Rp. 10.000
•Kampus UGM Rp. 25.000
•Kampus Udayana Rp. 25.000
•Asuransi perjalanan Rp. 10.000
•Operasional Rp. 150.000
(Tol PP, Parkir Bus, Fee Driver Kernet, Fee Guide Bali)
Jumlah biaya yang dikeluarkan Rp. 2. 750.000

Jika jumlah dikalikan seluruh siswa maka Rp. 2.750.000×427= 1.174.250.000.- (Satu Miliar Seratus Tujuh Puluh Empat Juta, Dua Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah)

Testimoni Siswa yang Pernah Berangkat Mengikuti Studi Kampus

Sebut saja Bunga salah satu siswa yang pernah mengikuti kegiatan studi kampus pada tahun 2022 lalu. Menurut keterangan Pamannya yang bernama Muhammad. “Bunga merasa kecewa dengan kegiatan studi kampus yang diselenggarakan pada 2022 yang lalu” katanya mengikuti perkataan Bunga kala itu.

Hal tersebut disebabkan karena studi kampus yang diikuti membuat dirinya kelelahan dan tidak sesuai ekspektasi.

Komentar Publik

Hal tersebut menuai komentar publik dari masyarakat Indramayu sekaligus Alumnus SMAN Sasi angkatan 2003 Tri Yuda. Menurutnya penyelenggaraan kegiatan tersebut dinilai kurang bermanfaat.

“Kegiatan tersebut terlalu berlebihan, dengan biaya segitu apa yang dicari? Emangnya di Indramayu gak ada?,” ungkap Tri (14/12).

Dia melanjutkan, jika tujuannya untuk mengenal dunia kampus di Indramayu juga bisa. Bahkan bisa mendatangi berbagai kampus yang ada di Indramayu dengan biaya yang sangat murah dan wawasan yang didapatkan lebih komprehensif.

“Jauh-jauh ke Yogyakarta dan Bali apa yang dicari sih, kesannya seperti buang-buang duit saja? Saya harapkan pihak sekolah bisa menjelaskan hal itu dengan membuat pelaporannya,” pungkas Tri.

Akhir kata, dengan terselenggaranya program studi kampus tersebut apakah memang benar-benar dibutuhkan oleh para siswa SMAN 1 Sindang? ataukah hanya modus operandi yang dilakukan oleh para oknum untuk mencari keuntungan belaka?! *** (Taufid)

Berita lainnya