Oleh: Thafhan Muwaffaq
Dosen Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Inggris, Universitas Al-azhar Indonesia
Telah diketahui penganiayaan yang diduga melibatkan Mario Dandy Satrio (Mario) sebagai pelaku dan Cristalino David Ozora (David) sebagai korban terjadi di Februari yang lalu. Penganiayaan dilakukan karena Mario, waktu itu berpacaran dengan Agnes, menerima aduan pelecehan dari sang pacar oleh David terhadap dirinya. Mario bersama Agnes dan temannya, Shane, mendatangi David. Agnes menggunakan alih-alih mengembalikan Kartu Pelajar agar mau menemui mereka. Sempat menolak ajakan berkelahi dan telrlibat perdebatan, David lalu dipukuli oleh Mario sampai berakhir koma. Saat ini telah beredar kabar keadaan David kunjung membaik, sementara hubungan Mario dengan Agnes telah bubar, dan pemeriksaan hukum kini melibatkan ketiga orang yang mendatangi David waktu itu (yaitu: Mario, Agnes, dan Shane).
Respon-respon bermunculan menyinggung kasus tersebut, khususnya dalam hal jeratan hukum Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), kehidupan hedonistik dan glamor Keluarga pejabat pemerintah, sampai dengan penjelasan psikologis dibalik penganiayaan yang dilakukan Mario. Tetapi pada kesempatan ini saya bermaksud memasang perspektif semiotik kognitif untuk menyediakan penjelasan behavioral (perilaku) dan refleksi moral atas aksi Mario. Posisi penulis tidak akan menghakimi Mario dan yang terlibat dalam penganiayaan melalui cara yang memperkeruh nama. Konsentrasi saya jatuh pada aksi penganiayaan dan penalaran moral pihak yang terlibat sebagai pelaku. Tidak pula akan diikutsertakan ke dalam perbincangan dalam tulisan ini desas-desus maupun gosip yang cenderung mempersepsikan subjek tertentu. Dengan pernyataan-pernyataan barusan, maka sekarang adalah waktunya memperkenalkan beberapa proposisi yang saling bertalian satu sama lain.
Salah satu proposisi yang dimaksud adalah penganiayaan itu didasari intensi Mario mempertunjukkan afeksinya terhadap Agnes, pacarnya waktu itu. Afeksinya itu diekspresikan melalui aksi kekerasan alih-alih memproteksi Agnes dan menghukum David, seseorang yang telah diadukan sebagai pengganggu hubungan (peleceh). Selanjutnya, tindak penganiayaan yang diduga dilakukan Mario terhadap David adalah suatu pertunjukan yang sengaja diperbuatnya demi mengelola status jantan dominan. Penganiayaan itu maka berunsur performatif, yang merupakan bagian perilaku kompleks. Perilaku kompleks yang dimaksud adalah kompetisi agresif dalam perilaku kawin sehubungan seleksi seksual, serta dominasi sosial dalam kelompok. Lebih lanjut, refleksi moralitas terhadap aksi tersebut mempertanyakan standar moral Mario sebagai penganiaya, dan Agnes dan Shane yang juga terlibat dalam kadar tertentu.
Proposisi-proposisi tadi saya kira terlalu gamblang untuk diambil sekali pandang. Maka dari itu, penjelasan lebih terperinci memerlukan segmentasi untuk masing-masing proposisi tersebut.
Penganiayaan: antara afeksi kekasih dan hukuman pembalas
Untuk memperjelas proposisi pertama bahwa penganiayaan oleh Mario didasari afeksinya terhadap Agnes, kita perlu mengingat hubungan antara keduanya saat itu adalah kekasih atau “pacar”. Kita juga perlu mengapresiasi hubungan mereka sebagai salah satu contoh hubungan sosial yang intim, pseudo-institusional kalau boleh, mengingat keserupaannya dengan institusi pernikahan. Anggapan-anggapan itu sebaiknya kita kenakan tanpa perlu mengindahkan gosip-gosip ataupun justifikasi negatif yang boleh saja telah merebak. Poin yang penulis ingin sampaikan dengan membawa subjek ini sesederhana bahwa hubungan pacar secara umum adalah bentuk hubungan sosial institusional informal yang sarat dengan penegakkan norma untuk mengelola kooperativitas pasangan. Poin tersebut tidak meninggalkan hubungan Mario dan Agnes sebagai tak terkecuali.
Dengan istilah institusional informal penulis bermaksud menyuratkan adanya aturan-aturan taktertulis yang mengikat individu-individu yang berhubungan sebagai pacar, Mario dan Agnes. Ini dapat diterima selama kita memandang institusi sebagai kumpulan peraturan tertulis ataupun tidak tertulis. Dalam hal ini aturan-aturan itu bisa saja secara sepihak melibatkan orang lain tanpa persetujuannya. David adalah orang lain yang jelas-jelas bukan bagian dari hubungan tersebut. Dia bahkan sah-sah saja tidak mengindahkan hubungan mereka. Nyatanya dia mengalami penganiayaan yang diduga diakibatkan oleh tuduhan melecehkan Agnes. Pelecehan terhadap Agnes maka adalah bentuk pelanggaran di hadapan institusi hubungan pacar Mario dan Agnes.
Ketika tuduhan pelecehan itu diadukan, maka David dipandang Mario telah melanggar institusinya dengan Agnes. Bagi Mario, David adalah sosok yang tidak mengakui dirinya dan hubungannya dengan Agnes. Pelecehan itu adalah penghinaan terhadap apapun itu yang Mario dan Agnes junjung sebagai percintaan di balik status pacar. Di saat yang sama, status itu meregulasi Mario dan Agnes sebagai saling memiliki, setidaknya bagi masing-masing dari mereka. Status tersebut telah membangun ekspektasi tentang bagaimana mereka seharusnya memperlakukan satu sama lain dalam cara yang sangat menuntut. Tuntutan itu ada karena status pacar layak diperoleh ketika sepasang mengakui afeksi yang mutual. Aduan pelecehan David di pemahaman Mario adalah institusi perpacarannya telah dihina, sehingga institusi itu menuntut Mario berbuat sesuatu yang mempercontohkan bagaimana dirinya seharusnya menyikapi kejadian itu sebagai pacar Agnes.
Dipandangan Mario, aduan pelecehan menaruh David sebagai pelanggar peraturan institusi perpacarannya. Ini membuat aksi penganiayaan itu sebagai resiprokal atau ganjaran langsung atas pelanggaran yang David lakukan. Ganjaran itu berarti beberapa hal.
Pertama, imposisi implisit terhadap David agar memberi pengakuan yang sepatutnya terhadap institusi perpacaran Mario dan Agnes, dan agar jera memperlakukan Agnes dalam cara yang melecehkan ataupun semacamnya. Imposisi tersebut menyiratkan pula ekspektasi perlakuan Mario terhadap Agnes sebagai pacar, yaitu dia seharusnya membuat Agnes merasa aman, nyaman, dihargai, diistimewakan, dan seterusnya. Tetapi ekspektasi tersebut tetap memiliki batasan ketika berkenaan dengan orang lain di luar mereka. Bagi Mario, meski orang lain harus berlaku sebaik-baiknya terhadap Agnes, mengingat dirinya adalah pacar Mario, tetap tidak diizinkan orang itu membuat Agnes merasakan afeksi yang sama ataupun melebihi perlakuan Mario. Dalam kata lain, kita harus berlaku baik kepada Agnes karena Mario berlaku seperti sebagai pacar. Jika tidak kita telah melanggar. Tetapi kita juga tidak boleh berlaku baik dalam cara yang menyaingi Mario sebagai pacar. Pelecehan David tentu tindak pelanggaran yang terlalu ekstrim bagi ekspektasi itu.
Kedua, kepatuhan terhadap ekspektasi yang diimposisi secara tersirat oleh institusi hubungan pacar Mario dan Agnes merupakan kooperativitas yang memastikan kelangsungan hubungan itu sendiri. Ketidakpatuhan yang dilakukan pelanggar, dalam hal ini David, maka membenarkan perlunya penegakkan norma melalui penghukuman untuk mengelola kooperativitas. Maksud kooperativitas adalah tindakan bersama untuk memperoleh gol atau tujuan bersama. Dalam konteks hubungan pacar Mario dan Agnes, terpeliharanya hubungan itu melalui perlakuan afektif berbalas, sebagaimana diekspektasikan oleh hubungan itu sendiri, adalah tujuan bersama bagi mereka. David terimposisi oleh keharusan bersikap kooperatif dengan tidak mengganggu atau tidak melanggar apa yang dianggap sebagai normatif bagi mereka, yaitu memperlakukan sepasang itu dengan sebaik-baiknya selama tidak melebihi kadar.
Tapi sebagaimana yang diketahui kenyataannya tidak demikian. Konfirmasi Agnes bahwa dia telah dilecehkan David secara konsekuensial menempatkan tuntutan bagi Mario bahwa dia harus melancarkan hukuman kepada David sebagai ganjaran. Jika tidak dipenuhi maka bisa saja Mario yang mendapat hukuman secara indirek. Misalnya dia jadi dipandang tidak bisa bersikap selayaknya seorang pacar, bahwa Agnes tidak bisa mengandalkan Mario untuk memperoleh keamanan, bahwa Mario tidak bisa memproteksi Agnes, dan bahwa orang lain (seperti Shane dan teman-teman Mario lainnya) akan menyayangkan kemandulan Mario memberi ganjaran, dan banyak lagi. Poinnya adalah, kemungkinan-kemungkinan itu berkaitan dengan pemersepsian afeksi Mario di mata Agnes sebagaimana diekspektasikan oleh institusi perpacaran mereka berdua. Di titik ini semoga terjelaskan bagaimana Mario ingin mengungkapkan kasih sayang dengan menghukum David.
Mario adalah seorang pacar atau sekaligus penegak hukum bagi insitusi perpacarannya dengan Agnes. Dia adalah setiap aparat penegak hukum dari penyidik sampai penyelidik, penuntut, hakim, sekaligus eksekutor terhadap pelanggaran yang dilakukan David. Sementara itu David adalah pihak terduga tanpa pembela yang didakwa dan divonis hukuman penganiayaan walaupun telah bersujud minta maaf.
Jika kita memandang hubungan pacar sebagai suatu institusi sosial informal, dapat terlihat dalamnya terdapat aturan-aturan taktertulis bagi sepasang yang terikat status pacar. Mario dan Agnes menjadi contoh untuk ini. Aturan-aturan taktertulis itu meregulasi perilaku mereka, dan secara implisit mengimposisi David sebagai pihak yang ada di luar hubungan. Unsur normatif dan institusional menopang tujuan atau gol bersama dari institusi perpacaran itu sendiri, yang pencapaiannya menuntut kooperativitas.
Penegakkan aturan institusi perpacaran diperlukan untuk mengelola kooperativitas, yaitu melanggengkan hubungan entah sampai putus ketika terjadi kasus atau bahkan sampai akhir hayat. Jika kita memandang persoalan Mario, Agnes, dan David seperti ini, dapat diwajarkan bahwa aksi penganiayaan Mario Dandy adalah reaksi terhadap apa yang dia pikir telah diperbuat oleh David terhadap pacar Agnes waktu itu. Reaksi itu adalah penghukuman terhadap David, sementara kepada Agnes adalah ungkapan kasih sayang—bahwa Mario sebagai pacar mampu menghukum orang menyinggung hubungannya.
Pertunjukan penganiyaan: kompetisi seksual dan dominasi sosial
Berangkat dari motif afeksi dan penghukuman, aksi penganiayaan yang diduga Mario telah lakukan terhadap David adalah sebuah pertunjukan. Pertunjukan yang dimaksud adalah semacam atraksi teatrikal spontan dan tanpa panggung untuk memenangkan kompetisi seksual dan dominasi sosial. Sejumlah unsur penyusun kejadian mengkondisikan kejadian tersebut sebagai suatu performa misalnya konteks kejadian, intensi, dan efek. Saya akan coba perjelas poin-poin tadi satu per satu, dengan harapan dapat memperjelas bagaimana penganiyaan itu adalah pertunjukan atau pentas yang diorkestrakan Mario demi mengimpresi lawan jenis (pacar) dan anggota kelompoknya (kawan). Tidak begitu bisa dipastikan keterangannya bagaimana Mario, Agnes, dan Shane bisa bersama ketika menyambangi David. Terlepas dari itu, kehadiran mereka bertiga di sana berada di bawah konteks menghukum David atas pelecehannya terhadap Agnes. Proses penghukuman Dandy yang dimulai dari menginstruksikan push up, bersikap tobat (sujud), hingga setiap kekerasan fisik yang mengakibatkan koma. Tidak boleh dilupakan seruan Mario yang menyatakan pandangannya terhadap nyawa David dan melakukan selebrasi ala Ronaldo selagi menganiaya. Semua itu koheren dengan intensi penghukuman David oleh Mario dengan cara yang sangat meyakinkan dan langsung di mata para penontonnya.
Penonton yang duduk di bangku VIP adalah yang menyaksikan aktivitas itu secara langsung. Mereka adalah pacar Agnes dan Shane sebagai teman. Dalam kata lain, penganiyaan itu adalah pernyataan simbolik tentang siapa Mario, apa yang dia bisa perbuat, dan inilah yang terjadi ketika seseorang menyinggung dirinya, institusinya, dan apalagi orang penting baginya.
Intensionalitas bersyarat gol atau tujuan dari setiap aksi. Menghukum David sebengis mungkin, ditunaikan dalam gaya yang paling menyepelekan nyawa, ataupun kemungkinan konsekuensial yang menanti adalah tujuan dari aksi Mario. Ini kemudian meninggalkan pertanyaan tentang hasil yang dicapai dari aksi tersebut, dalam hal ini saya melihat semata-mata demi rekognisi. Pentas penganiayaan itu secara gamblang memberi rekognisi diri kepada Mario bahwa dia sanggup melakukan yang dia lakukan terhadap David. Kepada Agnes maka aksi tersebut tidak lepas dari ungkapan afeksi Mario, bahwa demi cinta yang telah dilanggar dia sanggup menghukum pengganggu dalam hubungan mereka, dan dia tidak takut apabila penghukumannya mengakibatkan kematian dan laporan polisi. Kepada David aksinya berarti ganjaran atas perbuatannya terhadap pacar Agnes, bahwa bersujud tobat sekalipun tidak akan. membuatnya diampuni dari penganiayaan, dan bahwa konsekuensi pelanggaran yang dia lakukan menghilangkan nilai atas nyawanya. Shane berada di sana juga sebagai penonton sekaligus teman yang kini mengerti bahwa Mario bisa menendang kepala seperti “sedang main bola”, dengan demikian Mario adalah sosok yang layak baginya untuk mengabdikan pertemanan.
Rekognisi yang diperoleh Mario tentang kemampuannya memberi ganjaran adalah satu lapis makna semiotik dari pertunjukan penganiayaan. Di lapisan lain pertunjukan penganiayaan oleh Mario ini adalah suatu atraksi agresif yang lazim untuk pemenangan seleksi seksual yang berhubungan dengan perilaku kawin dan pemerolehan status dominan secara sosial. Riset psikologi sosial mensugestikan adanya kecenderungan besar lelaki mengimpresi perempuan melalui agresi terhadap kompetitor. Ini wajar adanya selama kita memandang seleksi seksual dalam kaitannya dengan perilaku kawin berorientasi kepada pencarian pasangan paling berkualitas; sehingga pada spesies hewan non-manusia, adu kekuatan antara untuk memangkan rivalitas menjadi lazim. Maksud “kualitas” di sini secara biologis merujuk kepada perihal genetik, tetapi secara psikologis adalah potensi untuk memberi keamanan, kenyamanan, kemakmuran, dan lain-lain.
Kembali ke pentas penganiayaan yang dilakukan Mario. Melihat kejadian tersebut dengan perspektif seleksi seksual membuat David terlihat tidak hanya sebagai pelanggar hubungan pacar Mario dan Agnes, tetapi David juga patut diasumsikan sebagai kompetitor bagi Mario. Kalau pemberitaan yang beredar benar bahwa pelecehan yang ditudingkan Agnes kepada David hanyalah manipulasi belaka, dengan demikian sebaliknya Agnes justru mencari perhatian David, maka asumsi tersebut sulit untuk dibantah. Secara subsekuen Agnes menjadi terlihat di posisi yang tidak terpilih dalam seleksi seksual David sehingga memerlukan pengelolaan reputasi pribadi atau status sosial. Mengadukan David sebagai orang yang telah melecehkan kepada Mario adalah cara pengelolaan itu, dan penghukuman David melalui penganiayaan oleh Mario tujuan yang juga ingin dicapai oleh Agnes. Ini merasionalisasi pembiaran yang dia lakukan dengan menonton penganiayaan itu. Sementara bagi Mario, penganiayaan itu adalah ajang membuktikan afeksinya terhadap Agnes, bahwa dia adalah laki-laki yang bisa memberi ganjaran terhadap apa yang dipahaminya sebagai pelanggaran oleh David, sekaligus memastikan bahwa dirinya adalah laki-laki dengan kualitas yang sesuai dengan kriteria seksual Agnes.
Sebagai tambahan informasi memperkaya kontekstualisasi kasus yang sedang didiskusikan, kita perlu memandang Mario sebagai individu dengan kekayaan sumber daya. Ini cukup hanya dengan:mengingat tingkat sosio-ekonomik di mana Mario memposisikan diri melalui barang-barang kepemilikannya. Penjelasan evolusioner terhadap perubahan sistem sosial dan politik manusia menyugestikan bahwa akses terhadap sumber daya yang tersedia bagi sekelompok atau individu memampukan mereka mendominasi, menyusun hirarki kekuasaan, dan memimpin dalam cara yang mengesampingkan egalitarian dan mementingkan dominasi di dalam sosial. Aksi penganiayaan serta tuturan masa bodoh Mario maka dapat dipandang mempercontohkan teorisasi tersebut.
Kita perlu kembali ke anggapan bahwa aksi Mario adalah pertunjukan yang diintensikan untuk memperoleh rekognisi dari para penontonnya, dalam hal ini penonton yang dimaksud secara khusus adalah Shane, teman-teman Mario lainnya yang menerima video, serta publik. Adanya mediasi dengan fungsi sirkulasi publisitas melalui rekaman berbingkai kamera tunggal menyugestikan intensi kreasiona, hal ini pernah dibicarakan dalam kasus yang berbeda. Intensi kreasional perekaman aksi Mario sama dengan dokumentasi pamer atau unjuk kebisaan secara monumental, bahwa Mario mampu menganiaya tanpa ampun. Rekognisi terhadap statusnya sebagai individu yang dominan maka diperoleh sebagai hasil dari disaksikannya aksi penganiayaan itu oleh teman-teman Mario secara langsung maupun terekam. Dengan rekognisi tersebut Mario memperoleh posisi dalam hirarki sosial yang melibatkan dirinya terhadap orang-orang yang dia kenal, walaupun intensi tersebut tidak terealisasi secara mulus di pandangan publik.
Perilaku agresif sehubungan perilaku kawin untuk memenangkan kompetisi seleksi seksual tidak ekslusif pada spesies manusia, bahkan mayoritas mamalia maupun unggas. Dominasi sosial melalui penunjukkan kejantanan juga adalah suatu aksi perilaku yang dipercontohkan spesies di luar manusia, misalnya pada kera, dominasi dilakukan untuk memastikan hirarki di dalam kelompok dan integrasi kelompok. Secara evolusioner hal-hal tersebut merupakan strategi dalam memenangkan kompetisi untuk memperoleh sumber daya (contoh: makanan dan kawin) yang diperlukan untuk bertahan hidup. Bertahan hidup di sini tidak hanya tentang terus melangsungkan kehidupan tetapi juga menghitung pewarisan gen. Namun pada spesies non-manusia pola perilaku agresif untuk pemenangan kompetisi seksual ataupun pembentukan dominasi yang didasari respon melawan atau melarikan diri (atau fight or flee) sepertinya tidak berujung kepada penganiayaan terhadap individu yang sudah menunjukkan submisi. Setidaknya sampai saat ini tidak ditemukan catatan kasus semacam itu pada spesies non-manusia. Dengan demikian penganiayaan Mario terhadap David yang sudah jelas menunjukan submisi menjadi eksepsi tentang perilaku agresif intra-spesies yang juga ironis ketika memperhitungkan isu moral. Pembahasan yang utuh terkait pendapat barusan akan disediakan pada bagian berikutnya.
Persoalan moral: makna nyawa manusia dan kemanusiaan
Adalah prinsip moral universal bahwa nyawa manusia adalah takbernilai. Penghargaan setinggi-tingginya terhadap nyawa manusia adalah inheren bagi konsep kemanusiaan. Tanpa perlu disebutkan, salah satu hak azasi manusia adalah menghargai kehidupan seseorang tanpa terkecuali. Dikemukakan dalam literatur evolusi budaya, kemunculan moral adalah salah satu unsur yang mendefinisikan sosialitas manusia. Maka dari itu, remeh rasanya menyebutkan bahwa moral beserta serangkaian pemahaman yang memampukan kita menghargai nyawa manusia adalah hal yang membedakan manusia dari binatang atau spesies non-manusia.
Sekarang ke kasus penganiayaan David oleh Mario untuk merunut kembali rangkaian kejadiannya. Diketahui Mario menerima aduan bahwa pacar Agnes telah dilecehkan oleh David. Sebagai catatan pelecehan ini kelihatannya telah terbantahkan, meskipun Agnes sendiri mengkonfirmasi pelecehan itu kepada Mario. Kemudian Mario bersama pacar Agnes dan teman Shane mendatangi David dengan alih-alih muslihat, Agnes ingin mengembalikan kartu pelajar. Terpaksa harus menemui Mario, David terlibat perdebatan lalu dipukuli, ditendangi, dan diinjak berkali-kali oleh Mario. Selagi melaksanakan penyerangan itu Mario melakukan selebrasi dan mengutarakan ketidakpeduliannya terhadap nyawa David dalam ekspresi kasar. Penyerangan itu juga direkam dan disirkulasikan melalui media.
Proposisi-proposisi yang telah disampaikan dapat dibunyikan ke dalam pertanyaan sehubungan dengan kadar moralitas Mario, dan juga Agnes serta Shane. Pertama, kalaulah penganiayaan itu adalah penghukuman, maka apakah intrusi terhadap hubungan pacar yang dituduhkan kepada David cukup berat sehingga dia layak dianiaya dalam cara yang menggampangkan nyawanya? Maksud saya, seberat itukah hubungan pacar dalam pemahaman Mario, Agnes, dan Shane sehingga mereka, khususnya Mario dapat membenarkan dirinya untuk berlaku sedemikian keras? Kalau boleh lebih lugas lagi, pertanyaan-pertanyaan barusan sebetulnya mengimplikasikan tuntutan klarifikasi, yaitu: seperti apa persisnya standar moral Mario, Agnes, dan Shane? Dari mana standar itu mereka peroleh? Bagaimana mungkin penganiayaan itu dilancarkan seolah terbenarkan oleh Mario, sementara terbiarkan oleh Agnes dan Shane?
Pertanyaan-pertanyaan ini sulit dijawab ketika kita terlalu berjarak dengan subjek-subjek yang diperbincangkan, dan berspekulasi bisa saja menimbulkan persepsi yang menghakimi mereka.
Lebih jauh lagi, kepada Mario dan Agnes yang saat itu berhubungan pacar dapat ditanyakan benarkah konsep afeksi yang dipercontohkan Mario ketika melakukan penganiayaan terhadap David? Jika perbuatan tersebut ekspresi afektif bagi mereka berdua, apakah normatif bagi Mario dan Agnes, yang saat itu berhubungan pacar, bahwa kekasih pria adalah pelindung yang seyogyanya mampu mendominasi hingga ke tingkat kekerasan yang agresinya dapat menggampangkan nyawa manusia? Pertanyaan kepada Agnes sebagai kekasih perempuan bagi Mario saat itu maka: apakah sudah seharusnya seorang kekasih perempuan dilindungi dan ditampakkan ekspresi afektif semacam kekerasan yang menggampangkan nyawa orang ? Kesan dari kejadian tersebut menyugestikan bahwa semua itu normatif dalam hubungan pacar di pemahaman mereka, Mario dan Agnes. Kalau sugesti tersebut nyata, saya kira betapa mengerikannya konsep hubungan pacar versi mereka.Jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Bisa saja perbuatan tersebut disebabkan kemudaan mereka berdua, sebagaimana yang diketahui Mario berusia 20 tahun (seharusnya sudah dewasa memang) dan usia Agnes dua tahun dari menerima Kartu Tanda Penduduk (KTP).
Seseorang boleh saja menduga kedewasaan belum cukup terkembangkan dalam pribadi mereka, maka tentulah mereka bisa saja silap sehingga berbuat gegabah. Kalau dugaan itu benar ada, maka saya ingin menantangnya secara terang-terangan. Tantangan yang dimaksud meminta kejelasan: di usia berapa seharusnya kedewasaan matang? Lagipula, bagaimana mungkin kehidupan dengan mengenyam pendidikan selama belasan tahun tidak juga cukup mematangkan kedewasaan yang memampukan seseorang memaknai nyawa sebagai tak bernilai? Kalau ketidakmatangan kedewasaan mereka patut disalahkan, maka perlukah dipertanyakan pula kemampuan pendidikan membentuk moral? Meski masih banyak yang bisa dipertanyakan, saya memutuskan berhenti saja karena kelihatannya menganggap kemudaan dan ketidakdewasaan sebagai penyebab justru menyiratkan kengerian yang lebih besar: tingkat kesuksesan pendidikan Mario dan Agnes.
Sampai di sini, saya serahkan kesimpulan yang bersifat menilai atau mengevaluasi kejadian penganiayaan tersebut kepada pembaca. Seperti yang dinyatakan di awal tulisan, saya tidak akan melakukan hal itu. Kalaulah kejadian amoral ini bermuara di persoalan hubungan pacar, saya kira ini sepatutnya dijadikan contoh bahwa berpacaran adalah benar urusan cinta monyet. Cinta monyet di sini boleh saja dianggap perumpamaan tentang hubungan yang sebetulnya tidak perlu dianggap seserius itu, tetapi mampu menggerakkan agresi yang lebih kasar dari perilaku kawin monyet.
Ketidakseriusan yang saya maksud dibuktikan oleh berakhir hubungan itu ketika persoalan yang lebih serius terjadi—persoalan hukum. Kalaulah benar penganiayaan yang dilakukan Mario ungkapan afeksi, dilakukan demi melindungi Agnes agar merasa aman dan merasa dibela ketika dilakukan secara tercela, maka ungkapan afeksi demi hubungan pacar tersebut mengakhiri hubungan itu sendiri secara tragis.
Referensi
- Matthew, S., Boyd, R. & Veelen, M. V. Human Cooperation among Kin and Close Associates May Require Enforcement of Norms by Third Parties. in Cultural Evolution: Society, Technology, Language, and Religion (eds. Richerson, P. J. & Christiansen, M. H.) 45–60 (MIT Press, 2013).
- Currie, T. E. et al. Evolution of Institutions and Organizations. Complexity and Evolution (2016).
- Griskevicius, V. et al. Aggress to Impress: Hostility as an Evolved Context-Dependent Strategy. J Pers Soc Psychol 96, 980–994 (2009).
- Ainsworth, S. E. & Maner, J. K. Assailing the competition: sexual selection, proximate mating motives, and aggressive behavior in men. Pers Soc Psychol Bull 40, 1648–1658 (2014).
- Agnes Gracia Dibilang Manipulatif Usai Chat yang Diduga Miliknya dengan David Beredar: Tak Ada Bukti Pelecehan.Https://www.suara.com/lifestyle/2023/03/10/101500/agnes-gracia-dibilang-manipulatif-usai-chat-yang-diduga-miliknya-dengan-david-beredar-tak-ada-bukti-pelecehan.
- 5 Fakta David Bantah Lecehkan AG, Bongkar Kiriman Foto Agresif dari Mantan. https://www.suara.com/news/2023/03/24/130853/5-fakta-david-bantah-lecehkan-ag-bongkar-kiriman-foto-agresif-dari-mantan.
- Bongkar Isi Chat Agnes ke David, Pengacara Ungkap Mantan Mario Dandy yang Caper dan Kerap Kirim Foto – Tribun Gorontalo. https://gorontalo.tribunnews.com/2023/03/24/bongkar-isi-chat-agnes-ke-david-pengacara-ungkap-mantan-mario-dandy-yang-caper-dan-kerap-kirim-foto.
- Membedah Pengertian Hedonisme, Gaya Hidup Mario Dandy Satriyo | merdeka.com. https://www.merdeka.com/peristiwa/membedah-pengertian-hedonisme-gaya-hidup-mario-dandy-satriyo.html.
- Gintis, H. & van Schaik, C. P. Zoon Politicon. in Cultural Evolution (The MIT Press, 2013). doi:10.7551/mitpress/9894.003.0005.
- Muwaffaq, T. Telaah Semiokognitif Video Penembakan Teroris di Masjid Christchurch, Selandia Baru. Jurnal Magister Ilmu Hukum IV, 11–20 (2019).
- Lindenfors, P. & S.Tullberg, B. Evolutionary aspects of aggression the importance of sexual selection. Adv Genet 75, 7–22 (2011)
- de Waal, F. B. The Integration of Dominance and Social Bonding in Primates. https://doi.org/10.1086/415144 61, 459–479 (1986).
- Turchin, P. The Puzzle of Human Ultrasociality. in Cultural Evolution (The MIT Press, 2019). doi:10.7551/mitpress/9894.003.0007.





















