Oleh: Ramli Yudarsana
Tidak sedikit kaum muslimin yang hidup di era modern terpengaruh oleh paham orang-orang Barat yang menekankan kebahagiaan hanya pada melimpahnya materi atau uang. mereka terpengaruh dengan slogan Time is money artinya Waktu adalah uang. Kaum muslimin berlomba mencari uang meskipun dengan cara yang ilegal atau haram.
Prinsipnya yang penting bagi mereka bisa mengumpulkan uang atau materi sebanyak-banyaknya. Masalah cara dilarang syara’ tidak diperdulikan, harta hasil riba, judi, hasil mencuri yang dilarang diambil tetap diambil; dimakan.
Pertanyaanya, apakah betul bahwa kebahagiaan dan ketenangan hidup terletak pada banyaknya materi; uang. Faktanya ternyata tidak 100% benar. Bukan semata tebalnya uang menjadi sumber kebahagiaan, bertebaran diberbagai media banyak berita banyak orang yang terjerumus ke dalam jurang depresi, stres dan hidup tak tentu arah, hampa dari nilai-nilai religi; terombang-ambing dalam badai keinginan yang tak bertepi padahal maju secara ekonomi.
Di negara maju seperti Jepang yang secara materi tidak kekurangan tapi tengoklah tingkat depresi warganya cukup tinggi bahkan tidak sedikit memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Bahkan fakta mengejutkan berdasarkan data yang dilansir oleh WHO di dunia, hampir 800.000 orang meninggal dunia karena bunuh diri setiap tahunnya. Materi diperlukan oleh manusia supaya tertunjang kehidupannya, jika materi ini salah menampatkan dalam hati dikelola berdasarkan nafsu, didapatkan dengan cara yang haram maka jadi petaka besar.
Seorang ulama bernama Hatim al-Asham rahimahullah memberi resep kepada kita bagaimana caranya untuk hidup dengan tenang dan bahagia kuncinya kata beliau berpeganglah pada 4 prinsip,
1. Aku tahu bahwa rezekiku takkan dimakan oleh orang lain, maka aku pun merasa tenang.
Allah telah menetapkan sejak Ajali dan tertulis di lauhul Mahfudz bahwa setiap manusia memiliki rezekinya masing-masing tidak akan tertukar dan tidak mungkin bisa direbut oleh orang lain.
Bila Allah telah menetapkan rezeki untuk kita, sedunia orang ingin merebutnya dari kita maka tidak akan mungkin dapat. Begitupun bila kita ingin merebut rezeki orang lain yang telah ditetapkan oleh Allah maka mustahil kita berhasil merampasnya. Keyakinan akan Rizki yang telah ditetapkan Allah untuk kita tidak akan tertukar, mustahil direbut orang akan melahirkan hati yang diliputi ketenangan dan sifat qanaah atas rezeki pemberian Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak tergoda untuk mencari rezeki dengan jalan yang haram.
Sebaliknya, bila di dalam hati tidak ada sifat qana’ah rasa puas dengan rizki yang Allah tetapkan maka di dalam hati akan tumbuh sikap serakah, hasad terhadap rezeki orang lain. Para koruptor Mereka mencuri uang bukan karena hidup mereka miskin serba kekurangan; mungkin rumah mereka mewah dan banyak, mobil bermerek berbilang tetapi ketika tidak hatinya hampa dari qanaah dengan rezeki yang ditetapkan Allah mereka tergoda untuk melakukan tindakan kriminal yang diharamkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ingatlah kata Imam Ali Bin Abi Thalib bahwasanya harta itu halalnya jadi hisaban dan haramnya jadi siksaan nanti di akhirat.
2. Aku tahu bahwa amalku tak akan dikerjakan oleh orang lain, maka aku pun sibuk mengerjakannya.
Allah telah menetapkan berbagai kewajiban kepada individu-individu manusia mukallaf seperti salat lima waktu berpuasa di bulan suci Ramadhan membayar zakat harta, pergi ibadah ke Baitullah dan lain sebagainya maupun ibadah-ibadah penyempurna seperti amalan sunnah shalat rawatib, tahajud, shodaqoh, wakaf semuanya kewajiban dan amalan sunnah tidak mungkin dikerjakan oleh orang lain untuk kita.
Kita harus mengerjakan sendiri kewajiban tersebut sebagai pertanggungjawaban Tugas kita di dunia untuk ibadah kepada Allah. Amalan Ibadah yang kita kerjakan akan memperberat timbangan kebaikan kita ketika seluruh manusia akan dihisab oleh Allah di Yaumil Mahsyar imbalannya Allah akan memberi kebahagiaan abadi di surga.
Sebagaimana firman Allah dalam surat al-a’raf : 8
وَالۡوَزۡنُ يَوۡمَٮِٕذِ اۨلۡحَـقُّ ۚ فَمَنۡ ثَقُلَتۡ مَوَازِيۡنُهٗ فَاُولٰۤٮِٕكَ هُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ
Artinya : Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Maka barangsiapa berat timbangan (kebaikan)nya, mereka itulah orang yang beruntung.
Sebaliknya jika di dunia kita sibuk mengerjakan maksiat menumpuk-numpuk dosa maka akibatnya timbangan keburukan akan semakin berat. akibatnya Allah balas perbuatan maksiat kita di dunia dengan siksaan mengerikan di neraka. ini merupakan kerugian yang sangat-sangat besar.
Allah mengingatkan dalam surat al-a’raf : 9
وَمَنۡ خَفَّتۡ مَوَازِيۡنُه فَاُولٰۤٮِٕكَ الَّذِيۡنَ خَسِرُوۡۤا اَنۡفُسَهُمۡ بِمَا كَانُوۡا بِاٰيٰتِنَا يَظۡلِمُوۡنَ
artinya : dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri, karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami..
3. Aku tahu bahwa kematian akan datang tiba-tiba, maka aku pun bergegas menyambutnya.
Kematian itu datangnya mendadak tanpa aba-aba. banyak orang yang berasumsi bahwa mati datang karena sakit, tabrakan atau kecelakaan dan lain-lain padahal kematian itu datang ketika ketetapan ajalnya sudah tiba. ketika ajal datang maka tidak ada Tempo bagi manusia untuk minta baik itu dimajukan maupun dimundurkan.
وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَآءَ اَجَلُهُمۡ لَا يَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَةً وَّلَا يَسۡتَقۡدِمُوۡنَ
Artinya : Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.
Ketika sadar kematian itu datangnya mendadak, dan di kuburan yang setia menemani kita bukan lagi keluarga; istr;i anak tercinta, apalagi harta yang telah kita kumpulkan, apalagi teman-teman saudara dan handai tolan semuanya akan beranjak pergi setelah jasad terkubur di liang lahat.
Ternyata teman setia yang dulu sering kita abaikan, ditunda-tunda dikerjakan, asal-asalan ternya di kuburan yang menemani. Siapa teman setia yang menemani? Tidak lain amalan-amalannya saat masih hidup. Bila selama hidupnya banyak beramal sholeh maka di alam barzah akan ditemani teman Istimewa, indah dan wangi. Di kuburan si mayit akan merasakan naimul qobri atau nikmat kubur sampai tiba masa kebangkitan. Sebaliknya jika selama hidupnya banyak melakukan perbuatan dosa, maksiat maka dia akan ditemani oleh makhluk yang menyeramkan dan si mayit akan merasakan siksa himpitan di dalam kuburnya.
Alangkah ruginya dan penyesalan bila seorang manusia tidak mempersiapkan dengan sungguh-sungguh bekal di alam kubur berupa amal sholeh disaat kesempatan hidup diberikan.
4. Aku tahu bahwa diriku tak lepas dari mata Allah, maka aku malu kepada-Nya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala Zat Yang Maha Tahu baik yang bersifat zahir maupun batin. tidak ada satupun ruang atau tempat di dunia ini yang kita bisa menghindari atau luput dari pengawasan Allah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menugaskan kepada malaikat Kiraman Katibin mencatat seluruh perbuatan kita bila kita berbuat baik akan dicatat dalam Dalam kitab catatan amal yang disebut ‘Iliyin sedangkan catatan amalan buruk dipisahkan dalam kitab yang bernama Sijjin.
Allah berfirman Al-Infithar 10-12:
وَاِنَّ عَلَيۡكُمۡ لَحٰـفِظِيۡنَ.. كِرَامًا كَاتِبِيۡنَ… يَعۡلَمُوۡنَ مَا تَفۡعَلُوۡنَ
artinya: Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu) yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (amal perbuatanmu), Mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.
Pembaca sekalian sungguh sangat berharga waktu yang diberikan Allah saat ini, mari kita menfaatkan untuk beramal sebanyak-banyaknya. Supaya kita hidup kita tenang di dunia dan bahagia akhirat.
Penulis adalah salah seorang Dosen di STAI sayid Sabiq Indramayu.





















