Sumatera dalam Dekapan Luka: Refleksi Geologis dan Spiritual atas Runtuhnya Keseimbangan Alam

Potret Penulis. (Ist)

Bagikan

Penulis: Sanda Sakarudin

Mahasiswa Pascasarjana MPAI Universitas Islam 45 Bekasi

 

Kagetnews | Opini – Bencana besar yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat pada akhir tahun 2025 dapat dilihat dari tiga sudut pandang:

1. Sudut Pandang Ekologis dan Antropogenik

Bencana banjir bandang dan tanah longsor masif di sepanjang Bukit Barisan merupakan manifestasi dari hilangnya daya dukung lingkungan. Deforestasi yang terus berlanjut membuat tanah kehilangan “jangkar” alaminya.

Ketika curah hujan ekstrem akibat perubahan iklim (seperti Siklon Senyar) menghantam, alam tidak lagi memiliki mekanisme pertahanan, sehingga air dan tanah berubah menjadi kekuatan penghancur.

2. Sudut Pandang Geologis

Sumatera adalah laboratorium bencana yang nyata. Keberadaan Patahan Semangko (Sesar Sumatera) yang membelah pulau ini menjadikannya sangat rentan terhadap gempa darat. Kondisi tanah yang sudah jenuh air akibat hujan terus-menerus memicu efek “likuefaksi” kecil dan longsoran tanah yang mengubur pemukiman di bawah lereng pegunungan.

3. Sudut Pandang Sosio-Ekonomi

Dampak bencana ini sangat timpang, di mana masyarakat ekonomi rendah yang tinggal di daerah rawan (bantaran sungai dan tebing curam) menjadi korban paling terdampak. Ini menunjukkan bahwa bencana alam selalu berkaitan erat dengan isu keadilan sosial dan penataan ruang yang belum berpihak pada keselamatan.

Dalam perspektif Islam, bencana seringkali dipandang sebagai peringatan (tadzkhirah) bagi manusia atas apa yang telah mereka perbuat terhadap alam, berikut penyebabnya:

1. Kerusakan Akibat Tangan Manusia

Bencana di Sumatera yang diperparah oleh penggundulan hutan selaras dengan peringatan dalam QS. Ar-Rum: 41:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

2. Keseimbangan Alam yang Terganggu

Tuhan menciptakan bumi dengan keseimbangan (mizan). Bencana terjadi ketika manusia melampaui batas dalam mengeksploitasi alam, sebagaimana diingatkan dalam QS. Ar-Rahman: 7-8:

“Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu.”

3. Ujian bagi Kesabaran dan Ketangguhan

Bencana juga merupakan ujian bagi keimanan dan solidaritas kemanusiaan, sesuai dengan QS. Al-Baqarah: 155:

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Dari bencana yang telah terjadi di Sumatera tahun 2025 merupakan peringatan keras bagi pemerintah dan masyarakat. Secara teknis, diperlukan pembenahan tata ruang dan restorasi hutan. Secara spiritual, manusia diajak untuk kembali menghormati hukum alam (Sunnatullah) agar keseimbangan di Pulau Sumatera dapat pulih kembali.

Berita lainnya